TYA
INSYAFNYA GITA
Gita adalah anak yang durhaka pada orang tuanya. Ia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa yang indah. Umur Gita sekarang 16 tahun. Ia kesal dengan keadaan orang tuanya yang miskin. Bila tak punya uang, ia suka mencuri. ”Ibuu, Ibuu...buatin aku mie goreng!” kata Gita sambil marah-marah. ”Tunggu Gita, ibu lagi cuci piring” kata ibu dari dapur. Lima menit sudah berlalu...”Ibuu.. bikin mie aja kok lama banget sih..!Teriak Gita kesal. ”Iya Gita, ibukan lagi cuci piring”. ”Nggak ada alasan. Pokoknya harus sekarang!” kata Gita sambil mendorong ibunya ke arah kompor. Belum lagi ibunya selesai memasak mie...”Ibu..ibu.. lama banget siih. Sudah aku bikin sendiri aja. Ayo sekarang ibu masuk ke kamar mandi aja” kata Gita sambil menarik lengan ibunya, mendorongnya masuk ke kamar mandi. ”Astaghfirullah... Gita, ini ibumu nak..” kata ibi sambil menangis. ”Apa ibu? Kalau jadi ibunya Gita jangan miskin. Jangan malas. Kalau miskin kayak gini namanya pembantu. Udah deh, sekarang masuk ke kamar mandi” Ya Allah jahatnya Gita. ”Ya Allah ampuni anakku Gita, sadarkan dia ya Allah” biarpun ibu Gita disakiti setiap hari, ia tak pernah berhenti berharap pada Allah.
Besok paginyapun sikapnya masih sama. ”Nih uang buat belanja” kata Gita pada ibu sambil melemparkan uang yang banyak. ”Gita, ini uang dari mana? Tanya ibunya. ”Pembantu mau tahu aja, sudah yang penting masakkan aku makanan yang enak-enak” Rupanya Gita mencuri lagi. ”Rebuskan aku air panas buat mandi” kata Gita. ”Tunggu ya nak” Ibu menyelesaikan jahitannya. ”Nggak pake nanti-nanti, sekaraang!!! Jawab Gita sambil teriak. Setiap hari selalu seperti itu. Tak pernah berubah.
Siang itu datang tetangganya dengan tergesa-gesa ”Gita, ibumu ada di rumah sakit. Tadi pagi ia tertabrak mobil waktu mau ke pasar. Cepat kau datang ke sana” kata tetangga itu. ”Ah biar aja.. ..,aku nggak sempat” kata Gita sambil melanjutkan tidur siangnya. Ibu Gita ternyata meninggal. Tapi Gita masih tak perduli juga. Yang mengurus jenazahnya adalah tetangga-tetangga yang selama ini prihatin melihat ibu Gita.
Sejak kepergian ibunya, semakin terasa betapa pentingnya ibu bagi Gita. Tak ada yang membuatnya makan. Tak ada yang mijit pada saat lelah. Tidak ada yang mengelusnya pada saat sedihn Tidak ada lagi yang memperhatikannya. Ibuu.... Gita menyesal....
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment