PADA SUATU HARI ROZAK DAN 4 ORANG TEMANNYA BERMAIN LAYANG-LAYANG. LAYANGAN ROZAK PUTUS. IA MENGEJAR LANYANGANNYA. TERNYATA LAYANG-LAYANG ROZAK JATUH DI ATAS MOBIL ORANG. IA BERMAKSUD MENGAMBILNYA, TAPI DARI DALAM RUMAH ADA SESUATU YANG MENCURIGAKAN. TERNYATA RUMAH ITU SEDANG DIRAMPOK.
ROZAK PUN MEMBERITAHUKAN PADA 2 ORANG TEMANNYA. MEREKA MELAPOR KE SATPAM TERDEKAT DAN MEMBUAT JEBAKAN. SALAH SATU TEMAN ROZAK MENGIKATKAN TALI KE POHON LALU ROZAK MENGALIHKAN PERHATIAN PERAMPOK ITU. ROZAK BERLARI SEKENCANG-KENCANGNYA MELEWATI TALI. PADA SAAT GEROMBOLAN PERAMPOK ITU LEWAT, TEMAN-TEMAN ROZAK MENARIK BENANG SAMPAI GEROMBOLAN PERAMPOK ITU TERJATUH. SEORANG TEMANNYA MASIH SEMPAT MELEMPARI PERAMPOK ITU DENGAN KALENG. MEREKA MENGIKAT PERAMPOK ITU.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN SATPAM DATANG. LALU SATPAM ITU MENGUCAPKAN TERIMAKASAIH ATAS KEBERANIAN ROZAK DAN TEMAN-TEMANNYA.
ROZAK MELEPASKAN IKATAN IBU YANG TELAH DIRAMPOK. IBU ITU BERTERIMAKASIH KEPADA ROZAK & TEMANNYA. IA MEM-BERIKAN SEPIRING KUE SEBAGAI TANDA TERIMA KASIH.
PANDU
Monday, August 6, 2007
JUS JERUK YANG SOMBONG
Ada sebuah toko makanan yang menjual aneka jus. Ada Jus jeruk, jus melon, jus pisang, jus stroberi, jus anggur dan jus ceri. Setiap hari mereka dengan sabar menunggu pembeli. Diantara semua jus itu, jus jeruk adalah jus yang sombong. ”Tahukah kalian siapa yang diminum oleh orang gendut, orang kurus, yang paling enak dan yang paling manis? Jus jeruk dong”. Kara Jus jeruk.
Siang itu datanglah pembeli yang penuh jerawat. Jus jeruk tak mau, dia lari menuju atas etalase. Akhirnya pembeli berjerawat itu memilih jus ceri. Yang kedua datang pembeli lagi. Kakek itu ingin membeli jus jeruk, lagi-lagi jus jeruk lari bersembunyi di balik meja. Akhirnya kakek itu memilih jus pisang. Begitu seterusnya sampai tak sadar hari sudah malam dan tinggal jus jeruk sendiri. ”Waktunya tutup”kata penjualnya. ”Lho ini jus jeruk belum terjual, tapi pasti sudah nggak enak” kata penjualnya lagi. Akhirnyajus jeruk di lempar ke tong sampah.
Sedihnya.. makanya jadi orang jangan sombong nanti rugi sendiri lho.
Puteri
Siang itu datanglah pembeli yang penuh jerawat. Jus jeruk tak mau, dia lari menuju atas etalase. Akhirnya pembeli berjerawat itu memilih jus ceri. Yang kedua datang pembeli lagi. Kakek itu ingin membeli jus jeruk, lagi-lagi jus jeruk lari bersembunyi di balik meja. Akhirnya kakek itu memilih jus pisang. Begitu seterusnya sampai tak sadar hari sudah malam dan tinggal jus jeruk sendiri. ”Waktunya tutup”kata penjualnya. ”Lho ini jus jeruk belum terjual, tapi pasti sudah nggak enak” kata penjualnya lagi. Akhirnyajus jeruk di lempar ke tong sampah.
Sedihnya.. makanya jadi orang jangan sombong nanti rugi sendiri lho.
Puteri
Memancing Bersama Satrio
waktu hari libur aku memancing bersama satrio ,di km 13 di restoran ikan. aku dan satrio
pertama makan dulu karena satrio dan aku sangat kelaparan. makanannya juga em… e………nak…… makan ikan. ikannya bermacam-macam. ada ikan patin, mujair, bandeng, dll.
setelah makan kami memancing. adekku ,ayahku dan ibuku mendapat ikan sangat banyak, 1 ember besar penuh. sedangkan aku dan satrio dapat juga meski nggak banyak sih, tapi capek juga loo……… soal nya aku lagi asma.
setelah mancing sampai puas, aku pulang . hasil pancingan ikan dari siang sampai sore semua ku kasih satrio
qolid
pertama makan dulu karena satrio dan aku sangat kelaparan. makanannya juga em… e………nak…… makan ikan. ikannya bermacam-macam. ada ikan patin, mujair, bandeng, dll.
setelah makan kami memancing. adekku ,ayahku dan ibuku mendapat ikan sangat banyak, 1 ember besar penuh. sedangkan aku dan satrio dapat juga meski nggak banyak sih, tapi capek juga loo……… soal nya aku lagi asma.
setelah mancing sampai puas, aku pulang . hasil pancingan ikan dari siang sampai sore semua ku kasih satrio
qolid
PENCOPET
Seorang anak bernama Dikma suka sekali mencopet dompet orang, hanya karena biar bisa membeli sesuatu yang dia inginkan. Padahal kakaknya Sukma sudah memperingatkan. ”Dikma jangan suka mencopet dompet orang, itu perbuatan haram” kata sukma pada Dikma.. ”Ah biarin, kita kan orang susah. Orang kaya harus berbagi dengan orang susah dong” jawab Dikma. ”Tapi kan kita masih bisa cari pekerjaan yang halal, bantu cuci piring di rumah makan, Cleaning service, kuli kardus atau apa saja” kata Sukma lagi. ”Dengan begitu kita bisa mebuat orang tua kita senang, kita bisa berikan uang hasil kerja kita buat mereka. Orang tua kita juga akan bahagia melihat kita jadi anak soleh” Kata Sukma menasehati.
Sukma sadar bahwa perbuatannya hanya akan membuat orang tuanya sedih. ”Terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan berusaha mencari kerja yang halal agar ayah dan ibu tak sedih lagi” Jawab Dikma.
Qosim
Sukma sadar bahwa perbuatannya hanya akan membuat orang tuanya sedih. ”Terima kasih sudah mengingatkan. Aku akan berusaha mencari kerja yang halal agar ayah dan ibu tak sedih lagi” Jawab Dikma.
Qosim
BERMAIN SEPEDA
Waktu saya main sepeda
Saya merasa gembira sekali
Saya balapan sepeda
Yaah ...saya kalah
Tapi saya tetap bahagia
Kadang – kadang
Saya kasih pinjam sepeda
Ke teman saya
Saya gembira
Saya masi bisa berbagi
Riza
Saya merasa gembira sekali
Saya balapan sepeda
Yaah ...saya kalah
Tapi saya tetap bahagia
Kadang – kadang
Saya kasih pinjam sepeda
Ke teman saya
Saya gembira
Saya masi bisa berbagi
Riza
JALAN-JALAN? .... ENAK BANGET!
by Rizky
Tahun 2004 yang lalu aku ikut serta nenek dan keluargaku pergi ke Thailand. Ternyata ke Thailand perlu waktu yang lama dan jauh. Kami harus ke Jakarta dulu, lalu ke Batam. Dari Batam kami baru naik kapal ke Singapura, baru kemudian menuju Thailand. Sampai di Thailand ternyata ramai sekali. Waktu belanja kami nganri sampai 1 jam. Makanpun kami harus menunggu pesanan datang lamaa sekali.
Sampai di hotel, kami makan mie daging enaak banget. Karena kekenyangan jadi aku tertidur. Ibu bangunkan aku untuk segera mandi. Sebenarnya aku kesal, karena aku masih ngantuk. Ibu mau ngajak aku ke mall naik busway. Senangnya jalan-jalan lagi, nggak ada belajar...
Keesokan harinya kami berangkat ke Singapura. Di sana aku makan roti es krim. Waah..enak sekali. Aku sampai nambah 5 kali. Setiap kekenyangan aku pasti jadi ngantuk.
Keesokan harinya lagi kami sudah kembali ke Batam. Di Batam ternyata tidak terlalu enak. Biasa-biasa saja. Sampai di Jakarta kami langsung ke mall Taman anggrek dan ke mall-mall yang lain. Di Jakarta kami singgah serlama 5 hari. Pokoknya puas keliling-keliling.
Pengalaman yang menyenangkan bukan?
Tahun 2004 yang lalu aku ikut serta nenek dan keluargaku pergi ke Thailand. Ternyata ke Thailand perlu waktu yang lama dan jauh. Kami harus ke Jakarta dulu, lalu ke Batam. Dari Batam kami baru naik kapal ke Singapura, baru kemudian menuju Thailand. Sampai di Thailand ternyata ramai sekali. Waktu belanja kami nganri sampai 1 jam. Makanpun kami harus menunggu pesanan datang lamaa sekali.
Sampai di hotel, kami makan mie daging enaak banget. Karena kekenyangan jadi aku tertidur. Ibu bangunkan aku untuk segera mandi. Sebenarnya aku kesal, karena aku masih ngantuk. Ibu mau ngajak aku ke mall naik busway. Senangnya jalan-jalan lagi, nggak ada belajar...
Keesokan harinya kami berangkat ke Singapura. Di sana aku makan roti es krim. Waah..enak sekali. Aku sampai nambah 5 kali. Setiap kekenyangan aku pasti jadi ngantuk.
Keesokan harinya lagi kami sudah kembali ke Batam. Di Batam ternyata tidak terlalu enak. Biasa-biasa saja. Sampai di Jakarta kami langsung ke mall Taman anggrek dan ke mall-mall yang lain. Di Jakarta kami singgah serlama 5 hari. Pokoknya puas keliling-keliling.
Pengalaman yang menyenangkan bukan?
Doni Insyaf
by Ryan
Ada dua orang anak kakak beradik yang bernama Nisa dan Doni. Mereka anak tidak mampu. Doni punya kebiasaan tidak baik. Dia suka mencuri barang-barang berharga milik orang. Padahal kakanya Nisa sudah sering menasehati, ”Doni kamu jangan mencuri lagi, mencuri itu berdosa. Kamu harus taubat”. ”Jangan sampai kualat loh” kata Nisa. Tapi Doni masih belum mau mendengar nasehat itu.
Pagi ini Doni berniat untuk mencopet lagi. Dilihatnya dompet tebal yang muncul dari kantong seorang laki-laki. Ditariknya dompet itu perlahan...dan perlahan...., tapi..Orang itu berbalik melihat ke arah Doni. Ha ternyata dia preman pasar itu. Doni pun langsung dihajar tanpa ampun. Untung tak lama kemudian datang polisi. Preman itu kabur, Donipun selamat. ”Betul kata kak Nisa, kalau aku tak mau bertaubat bisa kualat” kata Doni dalam hati. Sejak saat itu Doni bertaubat dan menjadi anak baik. Diapun bekerja, jadi apa saja. Mencuci piring, menyapu, pekerjaan apa saja dia kerjakan.
Ada dua orang anak kakak beradik yang bernama Nisa dan Doni. Mereka anak tidak mampu. Doni punya kebiasaan tidak baik. Dia suka mencuri barang-barang berharga milik orang. Padahal kakanya Nisa sudah sering menasehati, ”Doni kamu jangan mencuri lagi, mencuri itu berdosa. Kamu harus taubat”. ”Jangan sampai kualat loh” kata Nisa. Tapi Doni masih belum mau mendengar nasehat itu.
Pagi ini Doni berniat untuk mencopet lagi. Dilihatnya dompet tebal yang muncul dari kantong seorang laki-laki. Ditariknya dompet itu perlahan...dan perlahan...., tapi..Orang itu berbalik melihat ke arah Doni. Ha ternyata dia preman pasar itu. Doni pun langsung dihajar tanpa ampun. Untung tak lama kemudian datang polisi. Preman itu kabur, Donipun selamat. ”Betul kata kak Nisa, kalau aku tak mau bertaubat bisa kualat” kata Doni dalam hati. Sejak saat itu Doni bertaubat dan menjadi anak baik. Diapun bekerja, jadi apa saja. Mencuci piring, menyapu, pekerjaan apa saja dia kerjakan.
Raja yang Bodoh
by Satrio
Pada suatu hari ada seorang raja yang bernama jinway. Ia ingin mengadakan pawai. Tetapi Jinway bingung mau memakai baju apa, penasehatnya menyarankan ia memakai baju ziarah. Raja itu setuju dengan usulnya. Tetapi penasehatnya hanya bercanda. Tetapi raja itu percaya pada penasehatnya.
Karena pawainya akan diadakan besok penasehatnya itu disuruh mengambilkan baju ziarah itu. Waktu diambilkan raja bertanya “mana baju ziarah itu?” tanya raja. “Ini sedang saya bawa, tetapi kalau orang yang bodoh tidak bisa melihatnya” kata si penasehat. “Tidak aku tidak bodoh, aku melihat baju ziarah itu kok” jawab sang raja.
Keesokan harinya raja memakai baju ziarah itu tetapi baju ziarah itu tidak terlihat sama sekali, soalnya penasehatnya itu hanya bercanda tetapi rajanya malah menganggap itu serius.
Waktu pawai di mulai warga langsung tertawa, karena raja hanya memakai celana dalam dan baju ziarah palsu. Si raja mulai merasa dibodohi. Penasehatnya langsung memberi tahu yang sebenarnya.
Akhirnya raja menghukum penasehatnya itu.
Pada suatu hari ada seorang raja yang bernama jinway. Ia ingin mengadakan pawai. Tetapi Jinway bingung mau memakai baju apa, penasehatnya menyarankan ia memakai baju ziarah. Raja itu setuju dengan usulnya. Tetapi penasehatnya hanya bercanda. Tetapi raja itu percaya pada penasehatnya.
Karena pawainya akan diadakan besok penasehatnya itu disuruh mengambilkan baju ziarah itu. Waktu diambilkan raja bertanya “mana baju ziarah itu?” tanya raja. “Ini sedang saya bawa, tetapi kalau orang yang bodoh tidak bisa melihatnya” kata si penasehat. “Tidak aku tidak bodoh, aku melihat baju ziarah itu kok” jawab sang raja.
Keesokan harinya raja memakai baju ziarah itu tetapi baju ziarah itu tidak terlihat sama sekali, soalnya penasehatnya itu hanya bercanda tetapi rajanya malah menganggap itu serius.
Waktu pawai di mulai warga langsung tertawa, karena raja hanya memakai celana dalam dan baju ziarah palsu. Si raja mulai merasa dibodohi. Penasehatnya langsung memberi tahu yang sebenarnya.
Akhirnya raja menghukum penasehatnya itu.
PENCURI KUE TART
by Sekar
Besok ulang tahun yang ke 10. Saat ulang tahun yang ke 9, Cathi di beri kado ulang tahun bunga matahari. Tapi Cathi alergi terhadap bunga matahari.
Beberapa hari yang lalu Cathi pernah menggambar beberapa benda yang sangat diinginkan saat hari ulang tahunnya. Kertas itu sengaja diam-diam diambil oleh Rena dari meja Cathi. Cathi memang ingin memberikan sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh Cathi. Dari beberapa benda yang digambar oleh Cathi, Rena memilih kue tart untuk hadiah ulang tahun Cathi nanti.
Beberapa jam kemudian kue tart itupun sudah jadi. Kue tart itu di letakkan di meja depan jendela. Karena capek setelah membuat kue, Rena segera berlari keluar untuk bermain di halaman.
”Hah, kemana kuenya? Siapa yang mengambil?” teriak Rena. Kakinya melangkah berputar mengelilingi dapur, mencari kue tart. Lama Rena mencari dengan perasaan kesal. Kue tartnya nggak ketemu. Terpaksa Rena membuat lagi yang baru. Untung masih ada sisa bahan yang cukup.
Situasi dapur sudah sangat berantakan. Karena Rena membuat kuenya dengan perasaan marah. Setelah kue tart masak, langsung dimasukkannya ke dalam lemari makan. ”Kalau sudah di kunci begini pasti aman. Nggak akan ada yang bisa usil” kata Rena pada dirinya sendiri.
Setelah membereskan dapur, Renapun menemui Citra, Tika dan Rika yang sedang bermain di halaman rumah Citra. Rena menceritakan kejadian mengesalkan itu. ”Sudah nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kuenya sudah aman kan? Sekarang kita main ke taman yuk! Hibur Tika. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju taman. Di sudut taman mereka melihat Boby sedang makan kue tart. Merekapun langsung mendekati Boby. ”Boby, kamu ambil kue tart di dapur rumahku ya?” Tanya Rena. ”Iya” jawab Boby sambil tetap sibuk menghabiskan kue tartnya. ”Tapi kenapa? Itu kan kue buat Cathi? Tanya Rena lagi. ”Aku lapar” jawab Boby lagi. Aduuh dasar Boby. Kalau sudah kelaparan nggak bisa di tahan. ”Ya udah kali ini aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulang ya. Nggak baik tahun nggak” kata Rena menasehati. Rena memang penyabar.
Yang penting kue tart buat Cathi masih ada. Rena senang karena Cathi bahagia sekali menerima kue tart itu.
Besok ulang tahun yang ke 10. Saat ulang tahun yang ke 9, Cathi di beri kado ulang tahun bunga matahari. Tapi Cathi alergi terhadap bunga matahari.
Beberapa hari yang lalu Cathi pernah menggambar beberapa benda yang sangat diinginkan saat hari ulang tahunnya. Kertas itu sengaja diam-diam diambil oleh Rena dari meja Cathi. Cathi memang ingin memberikan sesuatu yang benar-benar diinginkan oleh Cathi. Dari beberapa benda yang digambar oleh Cathi, Rena memilih kue tart untuk hadiah ulang tahun Cathi nanti.
Beberapa jam kemudian kue tart itupun sudah jadi. Kue tart itu di letakkan di meja depan jendela. Karena capek setelah membuat kue, Rena segera berlari keluar untuk bermain di halaman.
”Hah, kemana kuenya? Siapa yang mengambil?” teriak Rena. Kakinya melangkah berputar mengelilingi dapur, mencari kue tart. Lama Rena mencari dengan perasaan kesal. Kue tartnya nggak ketemu. Terpaksa Rena membuat lagi yang baru. Untung masih ada sisa bahan yang cukup.
Situasi dapur sudah sangat berantakan. Karena Rena membuat kuenya dengan perasaan marah. Setelah kue tart masak, langsung dimasukkannya ke dalam lemari makan. ”Kalau sudah di kunci begini pasti aman. Nggak akan ada yang bisa usil” kata Rena pada dirinya sendiri.
Setelah membereskan dapur, Renapun menemui Citra, Tika dan Rika yang sedang bermain di halaman rumah Citra. Rena menceritakan kejadian mengesalkan itu. ”Sudah nggak usah dipikirin, yang penting sekarang kuenya sudah aman kan? Sekarang kita main ke taman yuk! Hibur Tika. Akhirnya mereka berempat berjalan menuju taman. Di sudut taman mereka melihat Boby sedang makan kue tart. Merekapun langsung mendekati Boby. ”Boby, kamu ambil kue tart di dapur rumahku ya?” Tanya Rena. ”Iya” jawab Boby sambil tetap sibuk menghabiskan kue tartnya. ”Tapi kenapa? Itu kan kue buat Cathi? Tanya Rena lagi. ”Aku lapar” jawab Boby lagi. Aduuh dasar Boby. Kalau sudah kelaparan nggak bisa di tahan. ”Ya udah kali ini aku maafkan. Tapi lain kali jangan diulang ya. Nggak baik tahun nggak” kata Rena menasehati. Rena memang penyabar.
Yang penting kue tart buat Cathi masih ada. Rena senang karena Cathi bahagia sekali menerima kue tart itu.
SAHABAT YANG TLAH PERGI
By Sofia
Ada tiga orang anak bersahabat, mereka bernama Dini, Adinda dan Silvi. Mereka ber-sahabat sudah dari kelas 2 dan 3. Kemanapun berada mereka selalu bertiga. Rumah Dini dan Silvi kebetulan tak terlalu jauh, jadi selalu main bersama. Tapi liburan ini Dini mau pergi ke Jakarta, 2 minggu lagi. Silvi pasti kesepan. ”Kalau Dini ke Jakarta aku mau main ke rumah Adinda saja agar aku nggak kesepian.
Beberapa minggu kemudian libur telah berlalu dan hari ini aku sudah berangkat ke sekolah lagi.”Silvi, kenapa ya sikap Dini jadi aneh gitu?” tanya Adinda pada Silvi. ”Nggak tahu tuh, apa dia membenci kita ya? Sejak pulang dari liburab ke Jakarta dia jadi berubah” Jawab Silvi.
Tak lama Dini lewat di depan mereka. Sepertinya dia mau ke kantin. ”Yuk kita ikuti” ajak Silvi. ”Sampai juga ya ke kantin. Sebenarnya ada apa sih Din, sampai kita dicuekin. Kita berdua jadi bingungkan?” tanya Adinda tak sabar menunggu jawaban. ”Kalian ingat nggak, waktu itu terakhir kita masuk sekolah. Kalian mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Kalian tuh nggak punya hati ya. Aku nggak percaya kalau yang mengatakan itu adalah sahabatku!” Jawabnya dengan marah. ”Apa, kata-kata yang mana? Tanya Adinda. ”Apaa? Kalian nggak ingat? Keterlaluan ya. Sudah kita bubar aja. Kita nggak lagi sahabat” jawab Dini sambil berlalu.
Sejak saat itu Adinda dan Silvi tak pernah bisa menemukan kalimat yang sudah membuat Dini sakit hati. Dan sejak saat itu pula Mereka kehilangan satu sahabat, Dini.
Ada tiga orang anak bersahabat, mereka bernama Dini, Adinda dan Silvi. Mereka ber-sahabat sudah dari kelas 2 dan 3. Kemanapun berada mereka selalu bertiga. Rumah Dini dan Silvi kebetulan tak terlalu jauh, jadi selalu main bersama. Tapi liburan ini Dini mau pergi ke Jakarta, 2 minggu lagi. Silvi pasti kesepan. ”Kalau Dini ke Jakarta aku mau main ke rumah Adinda saja agar aku nggak kesepian.
Beberapa minggu kemudian libur telah berlalu dan hari ini aku sudah berangkat ke sekolah lagi.”Silvi, kenapa ya sikap Dini jadi aneh gitu?” tanya Adinda pada Silvi. ”Nggak tahu tuh, apa dia membenci kita ya? Sejak pulang dari liburab ke Jakarta dia jadi berubah” Jawab Silvi.
Tak lama Dini lewat di depan mereka. Sepertinya dia mau ke kantin. ”Yuk kita ikuti” ajak Silvi. ”Sampai juga ya ke kantin. Sebenarnya ada apa sih Din, sampai kita dicuekin. Kita berdua jadi bingungkan?” tanya Adinda tak sabar menunggu jawaban. ”Kalian ingat nggak, waktu itu terakhir kita masuk sekolah. Kalian mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan. Kalian tuh nggak punya hati ya. Aku nggak percaya kalau yang mengatakan itu adalah sahabatku!” Jawabnya dengan marah. ”Apa, kata-kata yang mana? Tanya Adinda. ”Apaa? Kalian nggak ingat? Keterlaluan ya. Sudah kita bubar aja. Kita nggak lagi sahabat” jawab Dini sambil berlalu.
Sejak saat itu Adinda dan Silvi tak pernah bisa menemukan kalimat yang sudah membuat Dini sakit hati. Dan sejak saat itu pula Mereka kehilangan satu sahabat, Dini.
Tiga Sekawan
By Tari
Ada tiga orang anak yang bersahabat, mereka adalah Rini, Tina dan Nina. Mereka bertiga disebut tiga sekawan. Kemanapun pergi mereka selalu bertiga.
Tiba-tiba persahabatan mereka menjadi kacau karena ada anak baru. Anak baru itu telah membuat Rini dan Tina menjauh dari Nina. Nina jadi kesal sekali. ”Ah sudah...masih banyak teman yang lain kok!” kata Nina dalam hati. Tak lama kemudian Ninapun telah menemukan teman baru lagi. Namanya Niva dan Diva, mereka anak kembar. Berteman dengan anak kembar ternyata menyenangan sekali.
Bagaimana dengan Rini dan Tina? Ternyata mereka sudah mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka menyesal. Seharusnya berteman dengan teman baru tak perlu meninggalkan teman lama kan? Rini, Tina dan Rina pun minta maaf pada Nina. Dan mereka semua menjadi sahabat. Dua Tiga Sekawan...atau...Enam Sekawan?
Ada tiga orang anak yang bersahabat, mereka adalah Rini, Tina dan Nina. Mereka bertiga disebut tiga sekawan. Kemanapun pergi mereka selalu bertiga.
Tiba-tiba persahabatan mereka menjadi kacau karena ada anak baru. Anak baru itu telah membuat Rini dan Tina menjauh dari Nina. Nina jadi kesal sekali. ”Ah sudah...masih banyak teman yang lain kok!” kata Nina dalam hati. Tak lama kemudian Ninapun telah menemukan teman baru lagi. Namanya Niva dan Diva, mereka anak kembar. Berteman dengan anak kembar ternyata menyenangan sekali.
Bagaimana dengan Rini dan Tina? Ternyata mereka sudah mulai menyadari kesalahan mereka. Mereka menyesal. Seharusnya berteman dengan teman baru tak perlu meninggalkan teman lama kan? Rini, Tina dan Rina pun minta maaf pada Nina. Dan mereka semua menjadi sahabat. Dua Tiga Sekawan...atau...Enam Sekawan?
BADU BUKAN BADUNG
By Thita
Temanku yang satu ini namanya Badu. Kini ia berusia 10 tahun. Kata teman-teman Badu adalah anak yang badung. Nilainya sering merah alias jelek. Di SD Amanah ini Badu Cuma sedikit. Teman-teman yang lain tak mau bergaul dengan Badu karena takut jadi ikut badung dan nilainya jadi merah.
Suatu hari ada yang menyebarkan gosip tentang Badu. ”Eh kalian tahu nggak, kemarin aku lihat si Badu di taman lagi merokok loh!” kata Kiky. Kiky adalah ratu gosip di sekolah ini. Semua berita tak ada yang terlewat olehnya. Biarpun kami tahu yang cerita adalah ratu gosip tapi kami percaya saja. Bisa jadi kan? Badu memang badung.
Rupanya gosip itu sampai juga di telinga Badu. Dia ceritakan berita itu pada bapaknya. ”Pak, boleh nggak Badu pindah sekolah...? tanya Badu pada bapaknya. ”Hhhmmm ....gara-gara gosip tadi? Tanya bapaknya serius. ”Iya pak, masak tiap hari difitnah terus, emang siapa yang tahan? Jawab Badu. ”Ya sudah, tapi kamu harus merubah sikap dan nilaimu jadi lebih baik. Mau?” tawar bapaknya. ”Baik pak, Badu berjanji akan berubah” jawab Badu semangat.
Pagi itu Badu dan ibunya langsung mendatangi kepala sekolah untuk mengurus kepindahannya. Kepala sekolah sudah memberi ijin. Dalam beberapa hari kemudian Badu sudah masuk ke sekolah barunya. Sejak Badu pindah, kelasnya jadi sepi. Tak ada yang teriak, tak ada yang usil lagi. Biarpun usil ternyata Badu juga suka membuat kami tertawa dengan kelucuannya. Tiba-tiba Kiky berdiri di depan kelas ”Ehm..hmm, eehh teman-teman”. Kami semua terdiam melihat ke arah Kiky. ”Ada apa?” tanyaku dalam hati. ”Sebenarnya Badu merokok waktu itu Cuma gosip. Sebenarnya Badu sedang makan rokok cake. Bukan rokok sungguhan. Aku yang buat... Aakuu. Cuma bercanda. Aku nggak tahu kalau akibatnya jadi begini...” kata Kiky dengan penuh sesal. ”Uuuuuuh....” serentak seluruh kelas teriak marah. Kami tidak lagi percaya pada berita yang dibawa Kiky. Menyesatkan...Kami jadi sedih ingat Badu. Kasihan dia..
Tapi di sekolah Badu yang baru, ia adalah anak yang soleh. Nilainya juga selalu bagus-bagus. Mungkin ini adalah jalan terbaik buat Badu. Semoga selalu jadi anak soleh ya...
Temanku yang satu ini namanya Badu. Kini ia berusia 10 tahun. Kata teman-teman Badu adalah anak yang badung. Nilainya sering merah alias jelek. Di SD Amanah ini Badu Cuma sedikit. Teman-teman yang lain tak mau bergaul dengan Badu karena takut jadi ikut badung dan nilainya jadi merah.
Suatu hari ada yang menyebarkan gosip tentang Badu. ”Eh kalian tahu nggak, kemarin aku lihat si Badu di taman lagi merokok loh!” kata Kiky. Kiky adalah ratu gosip di sekolah ini. Semua berita tak ada yang terlewat olehnya. Biarpun kami tahu yang cerita adalah ratu gosip tapi kami percaya saja. Bisa jadi kan? Badu memang badung.
Rupanya gosip itu sampai juga di telinga Badu. Dia ceritakan berita itu pada bapaknya. ”Pak, boleh nggak Badu pindah sekolah...? tanya Badu pada bapaknya. ”Hhhmmm ....gara-gara gosip tadi? Tanya bapaknya serius. ”Iya pak, masak tiap hari difitnah terus, emang siapa yang tahan? Jawab Badu. ”Ya sudah, tapi kamu harus merubah sikap dan nilaimu jadi lebih baik. Mau?” tawar bapaknya. ”Baik pak, Badu berjanji akan berubah” jawab Badu semangat.
Pagi itu Badu dan ibunya langsung mendatangi kepala sekolah untuk mengurus kepindahannya. Kepala sekolah sudah memberi ijin. Dalam beberapa hari kemudian Badu sudah masuk ke sekolah barunya. Sejak Badu pindah, kelasnya jadi sepi. Tak ada yang teriak, tak ada yang usil lagi. Biarpun usil ternyata Badu juga suka membuat kami tertawa dengan kelucuannya. Tiba-tiba Kiky berdiri di depan kelas ”Ehm..hmm, eehh teman-teman”. Kami semua terdiam melihat ke arah Kiky. ”Ada apa?” tanyaku dalam hati. ”Sebenarnya Badu merokok waktu itu Cuma gosip. Sebenarnya Badu sedang makan rokok cake. Bukan rokok sungguhan. Aku yang buat... Aakuu. Cuma bercanda. Aku nggak tahu kalau akibatnya jadi begini...” kata Kiky dengan penuh sesal. ”Uuuuuuh....” serentak seluruh kelas teriak marah. Kami tidak lagi percaya pada berita yang dibawa Kiky. Menyesatkan...Kami jadi sedih ingat Badu. Kasihan dia..
Tapi di sekolah Badu yang baru, ia adalah anak yang soleh. Nilainya juga selalu bagus-bagus. Mungkin ini adalah jalan terbaik buat Badu. Semoga selalu jadi anak soleh ya...
ES KRIM PIPI CAIR
By Thita
Hari minggu kemarin Pipi pergi ke Makro Swalayan bersama ayah dan ibu. Saat ibu pergi ke bagian daging, tiba-tiba Pipi berlari menuju Kotak es krim. Satu persatu ia amati setiap kotak es krim yang ada. Mulutnya pun bbergerak-gerak, sepertinya es krim itu sudah berada di mulutnya.
Pipipun berlari ke arah ibu. ”bu, belikan es krim” kata Pipi merajuk. Ibu melarang karena kalau di bawa pulang nanti es krimnya akan mencair ”Nanti saja kita beli di dekat rumah” bujuk ibu. Tapi Pipi tetap merengek. Pipinya yang gembul kelihatan tambah gembul karena dia merengut. Ayahpun ikut membujuk. Tapi semua gagal. ”Ya sudah boleh beli, tapi kalau es krimnya mencair jangan marah ya! Kata ayah. Pipi mengangguk penuh semnangat.
Sampaiu di rumah Pipi langsung membuka es krimnya, tapi mencair.....Mulut Pipi cemberut lagi. Tapi Pipi nggak berani marah pada ayah dan ibu. Ia marah pada dirinya sendiri karena nggak mendengar nasehat ayah dan ibu.
Setelah peristiwa itu, Pipi tak lagi membantah kata ayah dan ibu.
Hari minggu kemarin Pipi pergi ke Makro Swalayan bersama ayah dan ibu. Saat ibu pergi ke bagian daging, tiba-tiba Pipi berlari menuju Kotak es krim. Satu persatu ia amati setiap kotak es krim yang ada. Mulutnya pun bbergerak-gerak, sepertinya es krim itu sudah berada di mulutnya.
Pipipun berlari ke arah ibu. ”bu, belikan es krim” kata Pipi merajuk. Ibu melarang karena kalau di bawa pulang nanti es krimnya akan mencair ”Nanti saja kita beli di dekat rumah” bujuk ibu. Tapi Pipi tetap merengek. Pipinya yang gembul kelihatan tambah gembul karena dia merengut. Ayahpun ikut membujuk. Tapi semua gagal. ”Ya sudah boleh beli, tapi kalau es krimnya mencair jangan marah ya! Kata ayah. Pipi mengangguk penuh semnangat.
Sampaiu di rumah Pipi langsung membuka es krimnya, tapi mencair.....Mulut Pipi cemberut lagi. Tapi Pipi nggak berani marah pada ayah dan ibu. Ia marah pada dirinya sendiri karena nggak mendengar nasehat ayah dan ibu.
Setelah peristiwa itu, Pipi tak lagi membantah kata ayah dan ibu.
Buku Diary
By Thita
Pada suatu hari di desa suka maju, hiduplah anak yang bernama Alisa. Ia sangat pintar dan juga cantik. Namun, ia hidup sebatang kara. Pada suatu hari Alisa pergi dan melihat ada suatu gubuk yang cukup bagus, kebetulan ia sangat capek sehingga ia masuk ke dalam gubug itu dan tertidur di dalam gubuk tersebut. Ia pun tidur dengan nyenyak, hingga malam hari ia tertidur.
Pada malam harinya datang seorang perempuan yang hidupnya juga susah. “eh… eh… bangun, kamu siapa kok ada digubuk ini?” kata perempuan tadi. “Hoaaam…” Alisa menguap karena masih mengantuk. “Siapa namamu?” tanya perempuan tadi sekali lagi. “Namaku Alisa, dan kamu siapa?” jawab Alisa dan bertanya balik. “Namaku Adinda. Hari sudah malam kamu menginap di gubukku ini saja!” Ajak Adinda. Adinda agak lebih cantik dari pada Alisa dan tapi agak bodoh.
Keesokkan paginya setelah selesai mandi di sungai, Alisa berkata “Adinda makasih, ya sudah mengizinkan aku untuk tinggal disini” Kata Alisa. “Tidak apa-apa kok. Justru aku senang kamu ada disini dan menjadi temanku. Tapi… maaf Ya Alisa, karena aku tidak dapat memberimu makan setiap harinya. Namun, kali ini aku akan memberi kamu makan, kebetulan tadi malam hasil aku mengamen aku belikan nasi campur” Jawab Adinda panjang lebar. “Terima kasih Adinda, ini saja aku sudah terima kasih sekali padamu karena kamu telah memberiku sarapan ini” jawab Alisa.
Sorenya datang dua orang yang ingin memiliki anak, namun hingga kinimereka belum mendapatkannya. Mereka adalah orang terkaya di desa Suka maju.
“Haloooo… ada orang disini?” Tanya kedua orang itu. “Yaaa…. Tunggu sebentar” Jawab Adinda. Adinda pun mempersilahkan dua orang itu untuk masuk. Lalu dua orang itu menceritakan masalah mereka dan menanyakan apakah ada anak disini yang dapat mereka jadikan sebagai anak angkat mereka. Mereka sudah mencari anak di panti asuhan namun, tidak ada anak yang mereka anggap cocok menjadi anak mereka berdua.
Lalu, Alisa datang membawakan dua cangkir teh untuk dua orang tersebut. Kedua orang itu bertanya kepada Adinda “Apakah kamu bersedia menjadi anak angkat kami?” Tanya dua orang itu. Lalu Adinda permisi untuk kebelakang dan menarik tangan Alisa. “Alisa kamu mau ya, jadi anak mereka” Kata Adinda. “Memangnya kenapa?” Tanya Alisa. “Mereka berdua dapat membiayai kebutuhan kamu sedangkan aku tidak bisa” Jawab Alisa. “Ya, Terserah kamu deh.” Jawab Alisa pasrah. Lalu mereka berdua berpelukan sebagai tanda perpisahan.
Beberapa menit kemudian mereka keluar “Namanya Alisa, ia mau menjadi anak angkat kalian” Jawab Adinda. “Anak ku…..” Kata mereka serempak dengan perasaan bahagia. Mereka berdua membawa Alisa pergi. Di mobil mereka selalu berbincang-bincang.
Sesampainya di rumah baru Alisa, mereka menunjukkan semua ruangan kepada Alisa. Alisa pun sangat senang karena memiliki rumah yang besar.
Tak berapa lama papa dan mama angkatnya berpamitan karena ingin jalan ke mall yang memang cukup jauh dari desa Suka maju. Mereka berpesan agar Alisa tidak nakal dan jika ingin sesuatu minta tolong sama mbok irem pembantu dirumah baru Alisa. Hari itu Alisa ingin beristirahat di kamar barunya. Setelah orang tua angkat Alisa pulang dari mall, Alisa langsung diberi baju, topi, celana, sepatu, kaos kaki, tas Dll.
Pada hari yang lain ayah angkat Alisa mendapat uang yang banyak sekali. Papa Alisa mengajak pindah ke kota Jakarta untuk selamanya.
Mereka pergi ke Jakarta naik pesawat Garuda Indonesia. Saat pramugarinya dating, mama Alisa pun bertanya pada Alisa, “Alisa sayang, mau minum teh atau susu?” “Teh saja tante.” Jawab Alisa. “Alisa jangan panggil tante atau om lagi ya, tapi panggil papa atau mama.”
Beberapa jam kemudian….mereka pun sampai di Jakarta. Di Jakarta mereka tinggal di Jl. Pamulang permai 1 no.52 dekat dengan sebuah sekolah At-Taqwa. Alisa sangat senang, baru saja ia tinggal di rumah barunya ia pun sudah pindah ke Jakarta. Ternyata ayah Alisa sudah memesan rumah sebelum mereka pergi ke Jakarta. Rumah baru Alisa pun tak kalah besar. Kamarnya Alisa pun sangat besar.
“Alisa sayang, mama akan memberi-tahukanmu tentang ruangan-ruangan yang ada di disini. Coba kita buat tabelnya” kata mama Alisa. Mama Alisa pun mulai membuat tabelnya.
Antara lain tabelnya sebagai berikut:
Lantai Ruangan
1 Kamar mandi, ruang makan,
Rak sepatu, Garasi, Dapur
2 Kamar mandi,
Kamar pembantu,
Ruang bermain
3 Ruang belajar,
Ruang komputer,
ruang kerja
4 Ruang olah raga,
Ruang tanaman,
Ruang hewan
5 Kamar untuk tamu / Keluarga
yang datang (10)
6 Kamar Alisa, Kamar ibu Alisa,
Kamar Ayah Alisa
Mama Alisa pun menyerahkan tabel ruangan itu pada Alisa.
Keesokkan harinya….. Alisa di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya ke taman karawaci. Di taman karawaci ia pergi ke toko buku. “Alisa sayang, jika ingin membeli buku ambil saja” Kata ayah Alisa. “Sebenarnya aku ingin membeli buku diary ini. Namun, aku tak mau merepotkan orang tua baruku. Sebaiknya aku tak usah membeli buku supaya aku tidak merepotkan” Kata Alisa sambil melihat-lihat buku.
Ternyata di balik rak buku diary yang dicari Alisa ada orang tua baru Alisa. Mereka berdua sangat terharu mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Alisa barusan. Setengah jam pun berlalu… mama dan papa Alisa sudah puas mencari buku. Alisa pun dipanggil oleh orang tuanya. “Mana bukumu Alisa cantik” tanya papa Alisa setengah bercanda. “ Tak ada, pa” jawab Alisa ramah. “ lho kok tak ada papa carikan,ya!” Kata papa Alisa.
Saat itu papa Alisa mencari buku diary yang Alisa suka tadi. Akhirnya papa Alisa menunjukkan sebuah buku diary yang berbentuk kupu-kupu. “ Apakah kau mau yang ini?” tanya papa Alisa. “ Boleh, pa?” jawab Alisa dengan perasaan malu. “Tentu boleh, mengapa tak boleh?” Jawab papa Alisa sambil balik bertanya. Namun, Alisa tak bisa menjawab pertanyaan susah itu.
Setelah semua selesai memilih buku, mereka langsung membayarnya. Sesam-painya di rumah ia langsung lari ke kamar dan melihat buku terbagus dan termahal dari buku-buku yang dulu pernah dibelikan Almarhum dan Almarhumah orang tuanya dulu. Perasaan Alisa saaaaangat senang.
Alisa menjadi bertambah patuh pada orang tuanya. Oh, iya Alisa juga orang islam, loh. Dan juga sholatnya nggak pernah bolong-bolong. Bagaimana nggak kagum kita-kita saja masih banyak yang sholatnya bolong-bolong.
Alisa mulai menulis diary baru yang isinya seperti ini:
Hai, teman baruku (buku diary barunya), Aku mau curhat , nich. Gini tadi aku dipilihkan kamu sobat. Kamu cantik deh. Tapi….sayangnya orang tuaku dulu sudah tak ada dan tidak dapat melihat sobat baruku ini yang cantik dan indah ini. Moga-moga Allah menerima orang tuaku disisinya. Amiin. Sudah dulu ya, sobat aku mau mandi dulu sudah jam 04.00, nich.
Pada suatu hari Alisa sedang bermain dengan buku diarynya. Ternyata Alisa lupa telah meninggalkan buku diarynya di taman dekat rumah, gara-gara pengen segera buang air kecil. Alisa langsung berlari ke taman dan mencari buku diarynya. Namun, tak ketemu. Ternyata buku Alisa diambil oleh tiga anak nakal bernama Austin, owen, dan kara.
“Wek 3 kali, ini ya bukumu rebut nich kalau bisa!” Kata Austin. Namun, Alisa tak bisa merebutnya. “ha..ha..ha..ha…” Kata Owen dan kara serempak. “Sudah jam 05.00 sore pulang, yuk dan baca buku diary ini.” Kata Owen. Mereka pun pulang. Tanpa berbasa-basi Alisa pun mengikuti mereka.
Sampai di tujuan tiga anak nakal itu ingin membaca buku diary Alisa. Saat ingin membaca buku diary Alisa, Austin, Owen, dan kara dipanggil ibu mereka masing-masing untuk mandi. Lagi-lagi buku diarynya ketinggalan, ini memang kesempatan emas untuk Alisa. Alisa pun langsung mengambil kembali buku diarynya dan segera pulang. Sejak saat itu Alisa akan terus menjaga barang-barangnya dan tidak menaruhnya di sembarang tempat. Diary kan benda paling pribadi.
Pada suatu hari di desa suka maju, hiduplah anak yang bernama Alisa. Ia sangat pintar dan juga cantik. Namun, ia hidup sebatang kara. Pada suatu hari Alisa pergi dan melihat ada suatu gubuk yang cukup bagus, kebetulan ia sangat capek sehingga ia masuk ke dalam gubug itu dan tertidur di dalam gubuk tersebut. Ia pun tidur dengan nyenyak, hingga malam hari ia tertidur.
Pada malam harinya datang seorang perempuan yang hidupnya juga susah. “eh… eh… bangun, kamu siapa kok ada digubuk ini?” kata perempuan tadi. “Hoaaam…” Alisa menguap karena masih mengantuk. “Siapa namamu?” tanya perempuan tadi sekali lagi. “Namaku Alisa, dan kamu siapa?” jawab Alisa dan bertanya balik. “Namaku Adinda. Hari sudah malam kamu menginap di gubukku ini saja!” Ajak Adinda. Adinda agak lebih cantik dari pada Alisa dan tapi agak bodoh.
Keesokkan paginya setelah selesai mandi di sungai, Alisa berkata “Adinda makasih, ya sudah mengizinkan aku untuk tinggal disini” Kata Alisa. “Tidak apa-apa kok. Justru aku senang kamu ada disini dan menjadi temanku. Tapi… maaf Ya Alisa, karena aku tidak dapat memberimu makan setiap harinya. Namun, kali ini aku akan memberi kamu makan, kebetulan tadi malam hasil aku mengamen aku belikan nasi campur” Jawab Adinda panjang lebar. “Terima kasih Adinda, ini saja aku sudah terima kasih sekali padamu karena kamu telah memberiku sarapan ini” jawab Alisa.
Sorenya datang dua orang yang ingin memiliki anak, namun hingga kinimereka belum mendapatkannya. Mereka adalah orang terkaya di desa Suka maju.
“Haloooo… ada orang disini?” Tanya kedua orang itu. “Yaaa…. Tunggu sebentar” Jawab Adinda. Adinda pun mempersilahkan dua orang itu untuk masuk. Lalu dua orang itu menceritakan masalah mereka dan menanyakan apakah ada anak disini yang dapat mereka jadikan sebagai anak angkat mereka. Mereka sudah mencari anak di panti asuhan namun, tidak ada anak yang mereka anggap cocok menjadi anak mereka berdua.
Lalu, Alisa datang membawakan dua cangkir teh untuk dua orang tersebut. Kedua orang itu bertanya kepada Adinda “Apakah kamu bersedia menjadi anak angkat kami?” Tanya dua orang itu. Lalu Adinda permisi untuk kebelakang dan menarik tangan Alisa. “Alisa kamu mau ya, jadi anak mereka” Kata Adinda. “Memangnya kenapa?” Tanya Alisa. “Mereka berdua dapat membiayai kebutuhan kamu sedangkan aku tidak bisa” Jawab Alisa. “Ya, Terserah kamu deh.” Jawab Alisa pasrah. Lalu mereka berdua berpelukan sebagai tanda perpisahan.
Beberapa menit kemudian mereka keluar “Namanya Alisa, ia mau menjadi anak angkat kalian” Jawab Adinda. “Anak ku…..” Kata mereka serempak dengan perasaan bahagia. Mereka berdua membawa Alisa pergi. Di mobil mereka selalu berbincang-bincang.
Sesampainya di rumah baru Alisa, mereka menunjukkan semua ruangan kepada Alisa. Alisa pun sangat senang karena memiliki rumah yang besar.
Tak berapa lama papa dan mama angkatnya berpamitan karena ingin jalan ke mall yang memang cukup jauh dari desa Suka maju. Mereka berpesan agar Alisa tidak nakal dan jika ingin sesuatu minta tolong sama mbok irem pembantu dirumah baru Alisa. Hari itu Alisa ingin beristirahat di kamar barunya. Setelah orang tua angkat Alisa pulang dari mall, Alisa langsung diberi baju, topi, celana, sepatu, kaos kaki, tas Dll.
Pada hari yang lain ayah angkat Alisa mendapat uang yang banyak sekali. Papa Alisa mengajak pindah ke kota Jakarta untuk selamanya.
Mereka pergi ke Jakarta naik pesawat Garuda Indonesia. Saat pramugarinya dating, mama Alisa pun bertanya pada Alisa, “Alisa sayang, mau minum teh atau susu?” “Teh saja tante.” Jawab Alisa. “Alisa jangan panggil tante atau om lagi ya, tapi panggil papa atau mama.”
Beberapa jam kemudian….mereka pun sampai di Jakarta. Di Jakarta mereka tinggal di Jl. Pamulang permai 1 no.52 dekat dengan sebuah sekolah At-Taqwa. Alisa sangat senang, baru saja ia tinggal di rumah barunya ia pun sudah pindah ke Jakarta. Ternyata ayah Alisa sudah memesan rumah sebelum mereka pergi ke Jakarta. Rumah baru Alisa pun tak kalah besar. Kamarnya Alisa pun sangat besar.
“Alisa sayang, mama akan memberi-tahukanmu tentang ruangan-ruangan yang ada di disini. Coba kita buat tabelnya” kata mama Alisa. Mama Alisa pun mulai membuat tabelnya.
Antara lain tabelnya sebagai berikut:
Lantai Ruangan
1 Kamar mandi, ruang makan,
Rak sepatu, Garasi, Dapur
2 Kamar mandi,
Kamar pembantu,
Ruang bermain
3 Ruang belajar,
Ruang komputer,
ruang kerja
4 Ruang olah raga,
Ruang tanaman,
Ruang hewan
5 Kamar untuk tamu / Keluarga
yang datang (10)
6 Kamar Alisa, Kamar ibu Alisa,
Kamar Ayah Alisa
Mama Alisa pun menyerahkan tabel ruangan itu pada Alisa.
Keesokkan harinya….. Alisa di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya ke taman karawaci. Di taman karawaci ia pergi ke toko buku. “Alisa sayang, jika ingin membeli buku ambil saja” Kata ayah Alisa. “Sebenarnya aku ingin membeli buku diary ini. Namun, aku tak mau merepotkan orang tua baruku. Sebaiknya aku tak usah membeli buku supaya aku tidak merepotkan” Kata Alisa sambil melihat-lihat buku.
Ternyata di balik rak buku diary yang dicari Alisa ada orang tua baru Alisa. Mereka berdua sangat terharu mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Alisa barusan. Setengah jam pun berlalu… mama dan papa Alisa sudah puas mencari buku. Alisa pun dipanggil oleh orang tuanya. “Mana bukumu Alisa cantik” tanya papa Alisa setengah bercanda. “ Tak ada, pa” jawab Alisa ramah. “ lho kok tak ada papa carikan,ya!” Kata papa Alisa.
Saat itu papa Alisa mencari buku diary yang Alisa suka tadi. Akhirnya papa Alisa menunjukkan sebuah buku diary yang berbentuk kupu-kupu. “ Apakah kau mau yang ini?” tanya papa Alisa. “ Boleh, pa?” jawab Alisa dengan perasaan malu. “Tentu boleh, mengapa tak boleh?” Jawab papa Alisa sambil balik bertanya. Namun, Alisa tak bisa menjawab pertanyaan susah itu.
Setelah semua selesai memilih buku, mereka langsung membayarnya. Sesam-painya di rumah ia langsung lari ke kamar dan melihat buku terbagus dan termahal dari buku-buku yang dulu pernah dibelikan Almarhum dan Almarhumah orang tuanya dulu. Perasaan Alisa saaaaangat senang.
Alisa menjadi bertambah patuh pada orang tuanya. Oh, iya Alisa juga orang islam, loh. Dan juga sholatnya nggak pernah bolong-bolong. Bagaimana nggak kagum kita-kita saja masih banyak yang sholatnya bolong-bolong.
Alisa mulai menulis diary baru yang isinya seperti ini:
Hai, teman baruku (buku diary barunya), Aku mau curhat , nich. Gini tadi aku dipilihkan kamu sobat. Kamu cantik deh. Tapi….sayangnya orang tuaku dulu sudah tak ada dan tidak dapat melihat sobat baruku ini yang cantik dan indah ini. Moga-moga Allah menerima orang tuaku disisinya. Amiin. Sudah dulu ya, sobat aku mau mandi dulu sudah jam 04.00, nich.
Pada suatu hari Alisa sedang bermain dengan buku diarynya. Ternyata Alisa lupa telah meninggalkan buku diarynya di taman dekat rumah, gara-gara pengen segera buang air kecil. Alisa langsung berlari ke taman dan mencari buku diarynya. Namun, tak ketemu. Ternyata buku Alisa diambil oleh tiga anak nakal bernama Austin, owen, dan kara.
“Wek 3 kali, ini ya bukumu rebut nich kalau bisa!” Kata Austin. Namun, Alisa tak bisa merebutnya. “ha..ha..ha..ha…” Kata Owen dan kara serempak. “Sudah jam 05.00 sore pulang, yuk dan baca buku diary ini.” Kata Owen. Mereka pun pulang. Tanpa berbasa-basi Alisa pun mengikuti mereka.
Sampai di tujuan tiga anak nakal itu ingin membaca buku diary Alisa. Saat ingin membaca buku diary Alisa, Austin, Owen, dan kara dipanggil ibu mereka masing-masing untuk mandi. Lagi-lagi buku diarynya ketinggalan, ini memang kesempatan emas untuk Alisa. Alisa pun langsung mengambil kembali buku diarynya dan segera pulang. Sejak saat itu Alisa akan terus menjaga barang-barangnya dan tidak menaruhnya di sembarang tempat. Diary kan benda paling pribadi.
Dinda dan adik baru
By Titha
Aku punya seorang teman. Namanya Dinda. Kata Dinda, ibunya sudah tak bisa hamil lagi karena KB. Dulu aku belum tahu apa itu KB. Kini aku sudah tahu karena cerita ini.
Pada suatu hari ibu Dinda mengalami sakit perut. Pada saat itu memang lagi musim sakit diare. Lalu, mama Dinda muntah-muntah. Ayah Dinda kira istrinya terkena diare. Saat itu ayah Dinda membawa istrinya ke rumah sakit permata hati. Saat diperiksa dokter Rina ternyata ibu Dinda hamil. Mereka berdua pun memberi tahu Dinda bahwa ia akan mendapat adik baru. Namun, bulan ini baru 1 bulan.
8 bulan kemudian….Ibu Dinda pun sudah hamil 9 bulan. Mereka lupa menanyakan kapan akan melahirkan pada dokter Rina.
Dinda dan orang tuanya pergi ke pro baby membeli peralatan bayi yang belum tersiapkan. Setelah selesai memilih baju mereka langsung ke tukang jahit pak Doyok untuk menjahitkan baju buat ibu. Kebetulan tempat menjahitnya dekat dengan dukun beranak(kira-kira 100 m). Pak doyok langsung mengukur perut ibu dinda yang sangat jumbo. “Mengapa perut istri saya harus diukur?” tanya ayah Dinda. Saat diukur ibu Dinda merasa bahwa anaknya akan keluar. “Aduuh…aduuuh rasanya saya ingin melahirkan tolong, yah!” kata ibu Dinda sambil memenggang perutnya. “Waduh, bagaimana ini, Dokter Rina kan tempat prakteknya jauh?” tanya ayah Dinda dengan khawatir. “Tenang pak didekat sini ada dukun beranak kok, sebentar saya panggilkan. Bapak bawa istrinya dulu kekamar anak saya.” jawab pak Doyok.
Dinda membantu ayahnya membawa ibunya ke kamar anak pak Doyok. Kembali ke Pak doyok. “Cepet dong, mbah!” kata pak Doyok sambil menarik tangan mbah dukun beranak. ”mbo’ sabar, saya kan juga sedang hamil 9 bulan. ”Akhirnya dukun beranak dan pak Doyok sampai di rumah & langsung pergi ke atas menuju kamar anaknya pak doyok.
Lalu, sang dukun beranak menyuruh ibu Dinda menarik nafas. Ibu dinda pun melakukan perintah dukun itu. Saat ibu Dinda menarik nafas, dukun beranak itu ikut menarik nafas. Ehh…. tahunya si dukun beranak mau melahirkan anak juga. Lalu, oleh pak Doyok dukun beranak tersebut diantar ke ruang bawah. Lalu, sang dukun beranak berabahan di tempat tidur yang telah tersedia.
Dukun beranak menyuruh pak doyok untuk mengambil air panas. “Waduuh anakku sudah mau keluar. Tapi kok pak Doyok belum datang juga, ya?” kata sang dukun beranak. Dengan hati-hati sang dukun beranak menuju ke atas ke kamar anaknya pak Doyok. “Anakmu sudah lahir?” tanya dukun beranak itu. “belum mbah. Mbah sudah?” Jawab ibu Dinda sambil balik bertanya. “Kalau saya juga belum. Pak bisa tolong keluar dulu!” perintah dukun beranak sambil menyuruh ayah Dinda keluar begitu juga dengan Dinda.
“Tarik nafas ! buang perlahan!” perintah sang dukun beranak. Ibu Dinda pun mengikutinya. Beberapa waktu kemudian anak mereka berdua lahir. Anak sang dukun adalah laki-laki. Sedang ibu Dinda melahirkan dua orang anak yang bernama Lala dan Lili. Dinda mendapat adik kembar. Perasaannya sangat senang. Sang dukun beranak dan ibu Dinda pun pulang kerumah masing-masing.
Sampai dirumah Dinda menggendong adiknya Lala. Saat ibu melihat ibu memarahi Dinda, “Kamu tuh jangan gendong adik dulu nanti jatuh gimana?” Kata ibu dengan marah. Dinda pun pergi ke kamar untuk menuliskan kejadian tadi di buku dirinya.
Malam harinya saat makan malam tiba ayah, ibu, baby sister memberi makan Lala dan Lili. Dinda kecewa karena ia dicuekin oleh orang lain. Dinda pun langsung kekamar dan seperti biasanya dinda menulis kejadin yang baru ia alami di buku diarinya.
Hari minggu ayah dan ibu Dinda membelikan anak kembarnya baju, celana, topi, rok, dan lain-lain. Lagi-lagi dinda kecewa karena ia iri pada kedua adiknya karena ia hanya dibelikan sepasang kaos kaki dan tidak sama dengan adiknya.
Beberapa tahun kemudin saat adiknya Dinda sudah berumur lima tahun dan sudah bersekolah. Dinda sudah duduk di bangku kelas 4. Hari ini Dinda pulang lebih cepat karena ada rapat guru. Saat pulang Dinda ke tk adiknya dulu. Sesampainya di TK adiknya Dinda mendorong Lala dari atas pelosotan dan menjatuhkan Lili ke dalam paret. Dinda melakukannya karena ia iri pada adiknya. Sebelim punya adik ia memang selalu disayang oleh orang tuanya tapi sekarang tidak lagi.
Sesampainya di rumah ternyata adik Dinda sudah pulang. Adik Dinda nangis terus-terusan karena sakit. Orang tua Dinda membawa mereka ke rumah sakit. Dinda tak ikut. Saat pulang Dinda terkejut melihat kepala dan kaki adiknya dijahit dan diperban. Dinda pun menyesal yang dilakukannya sepulang sekolah tadi dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Aku punya seorang teman. Namanya Dinda. Kata Dinda, ibunya sudah tak bisa hamil lagi karena KB. Dulu aku belum tahu apa itu KB. Kini aku sudah tahu karena cerita ini.
Pada suatu hari ibu Dinda mengalami sakit perut. Pada saat itu memang lagi musim sakit diare. Lalu, mama Dinda muntah-muntah. Ayah Dinda kira istrinya terkena diare. Saat itu ayah Dinda membawa istrinya ke rumah sakit permata hati. Saat diperiksa dokter Rina ternyata ibu Dinda hamil. Mereka berdua pun memberi tahu Dinda bahwa ia akan mendapat adik baru. Namun, bulan ini baru 1 bulan.
8 bulan kemudian….Ibu Dinda pun sudah hamil 9 bulan. Mereka lupa menanyakan kapan akan melahirkan pada dokter Rina.
Dinda dan orang tuanya pergi ke pro baby membeli peralatan bayi yang belum tersiapkan. Setelah selesai memilih baju mereka langsung ke tukang jahit pak Doyok untuk menjahitkan baju buat ibu. Kebetulan tempat menjahitnya dekat dengan dukun beranak(kira-kira 100 m). Pak doyok langsung mengukur perut ibu dinda yang sangat jumbo. “Mengapa perut istri saya harus diukur?” tanya ayah Dinda. Saat diukur ibu Dinda merasa bahwa anaknya akan keluar. “Aduuh…aduuuh rasanya saya ingin melahirkan tolong, yah!” kata ibu Dinda sambil memenggang perutnya. “Waduh, bagaimana ini, Dokter Rina kan tempat prakteknya jauh?” tanya ayah Dinda dengan khawatir. “Tenang pak didekat sini ada dukun beranak kok, sebentar saya panggilkan. Bapak bawa istrinya dulu kekamar anak saya.” jawab pak Doyok.
Dinda membantu ayahnya membawa ibunya ke kamar anak pak Doyok. Kembali ke Pak doyok. “Cepet dong, mbah!” kata pak Doyok sambil menarik tangan mbah dukun beranak. ”mbo’ sabar, saya kan juga sedang hamil 9 bulan. ”Akhirnya dukun beranak dan pak Doyok sampai di rumah & langsung pergi ke atas menuju kamar anaknya pak doyok.
Lalu, sang dukun beranak menyuruh ibu Dinda menarik nafas. Ibu dinda pun melakukan perintah dukun itu. Saat ibu Dinda menarik nafas, dukun beranak itu ikut menarik nafas. Ehh…. tahunya si dukun beranak mau melahirkan anak juga. Lalu, oleh pak Doyok dukun beranak tersebut diantar ke ruang bawah. Lalu, sang dukun beranak berabahan di tempat tidur yang telah tersedia.
Dukun beranak menyuruh pak doyok untuk mengambil air panas. “Waduuh anakku sudah mau keluar. Tapi kok pak Doyok belum datang juga, ya?” kata sang dukun beranak. Dengan hati-hati sang dukun beranak menuju ke atas ke kamar anaknya pak Doyok. “Anakmu sudah lahir?” tanya dukun beranak itu. “belum mbah. Mbah sudah?” Jawab ibu Dinda sambil balik bertanya. “Kalau saya juga belum. Pak bisa tolong keluar dulu!” perintah dukun beranak sambil menyuruh ayah Dinda keluar begitu juga dengan Dinda.
“Tarik nafas ! buang perlahan!” perintah sang dukun beranak. Ibu Dinda pun mengikutinya. Beberapa waktu kemudian anak mereka berdua lahir. Anak sang dukun adalah laki-laki. Sedang ibu Dinda melahirkan dua orang anak yang bernama Lala dan Lili. Dinda mendapat adik kembar. Perasaannya sangat senang. Sang dukun beranak dan ibu Dinda pun pulang kerumah masing-masing.
Sampai dirumah Dinda menggendong adiknya Lala. Saat ibu melihat ibu memarahi Dinda, “Kamu tuh jangan gendong adik dulu nanti jatuh gimana?” Kata ibu dengan marah. Dinda pun pergi ke kamar untuk menuliskan kejadian tadi di buku dirinya.
Malam harinya saat makan malam tiba ayah, ibu, baby sister memberi makan Lala dan Lili. Dinda kecewa karena ia dicuekin oleh orang lain. Dinda pun langsung kekamar dan seperti biasanya dinda menulis kejadin yang baru ia alami di buku diarinya.
Hari minggu ayah dan ibu Dinda membelikan anak kembarnya baju, celana, topi, rok, dan lain-lain. Lagi-lagi dinda kecewa karena ia iri pada kedua adiknya karena ia hanya dibelikan sepasang kaos kaki dan tidak sama dengan adiknya.
Beberapa tahun kemudin saat adiknya Dinda sudah berumur lima tahun dan sudah bersekolah. Dinda sudah duduk di bangku kelas 4. Hari ini Dinda pulang lebih cepat karena ada rapat guru. Saat pulang Dinda ke tk adiknya dulu. Sesampainya di TK adiknya Dinda mendorong Lala dari atas pelosotan dan menjatuhkan Lili ke dalam paret. Dinda melakukannya karena ia iri pada adiknya. Sebelim punya adik ia memang selalu disayang oleh orang tuanya tapi sekarang tidak lagi.
Sesampainya di rumah ternyata adik Dinda sudah pulang. Adik Dinda nangis terus-terusan karena sakit. Orang tua Dinda membawa mereka ke rumah sakit. Dinda tak ikut. Saat pulang Dinda terkejut melihat kepala dan kaki adiknya dijahit dan diperban. Dinda pun menyesal yang dilakukannya sepulang sekolah tadi dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.
Kucing??... Yes!!!
By Tya
Dita baru saja pulang sekolah, “Assalamu’alaikum,ma!”. ”Eh, Dita, kebutulan nih tolong bawa tas koper mama dong,oh iya tas yg lainnya juga ya!” kata mama. ”Ih,mama Dita kan baru pulang, kok disuruh – suruh sih?lagian untuk apa tas sebanyak ini?” Dita ngomel. “Ya Allah Dit, kamu belum tau, kita kan mau pindah rumah!” kata mama. “Apa ma,mau pindah rumah?”jawab Dita kaget. ”Iya Dit,papa kan sudah dapat surat dinas ke luar negeri, emangnya nggak mau pindah rumah ya?”tanya mama lagi. ”Mau sih ma, tapi ……” Dita tampak tak bersemangat. ”Tapi apa? nggak mau ada kucing? memangnya kenapa sih kamu takut sama kucing?” lanjut mama. ”mm… gimana ya ma?” huhh,rupanya mama tahu,memang itu yg ku takutkan.
Waktu terus berjalan, sebentar lagi adzan maghrib tiba. Fauzan, kakak Dita mengetuk kamar Dita ingin mengajak sholat maghrib berjamaah. Tetapi Dita tidak membukakan pintu. Sudah lewat 5 menit Dita tidak membukakan pintu. Fauzan jadi heran karena Dita tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan berteriak ”Dita,Dita!!!buka pintu dong kita sholat bareng yuk!” Dita masih saja tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan mendobrak pintu, tetapi Dita tidak ada di kamarnya. Kak Zan sudah mencari ke semua ruangan,tetapi tidak ada. Mungkin dita kabur dari rumah,pikir fauzan. Selesai sholat Fauzan melanjutkan mencari Dita.
“Kenapa sih harus pindah? Kalo rumah kosong pasti jadi sarang kucing, tikus. Aduu..h” Dita bicara sendiri. “Tapi sebenarnya asyik juga pindah, pasti akan banyak teman baru. Aduuh gimana ini……” lama Dita berpikir, menyendiri di balik pohon mangga besar di sudut belakang rumah. “Kucing,kucing,kucing lagi.....” hingga waktu sholat maghrib lewat, dia masih belum beranjak dari tempat duduknya.
Di rumah ternyata papa dan mama juga khawatir. Sekeliling rumah sudah dicari, tapi Dita tetap tak ada. Mama menelpon ke rumah nenek, tante... dan teman–teman Dita. Wajah mama tampak khawatir sekali. “Masa ini hanya gara– gara takut kucing di rumah baru ? Aduuh kemana kamu dita ?” kata mama. ”Coba kita cari keliling komplek, siapa tahu dia ke taman,atau dimana!” ajak papa. Mereka pun keluar rumah dengan penuh khawatir.
”Aah ... tolong...!” teriakan itu membawa kak Zan melangkah ke belakang rumah. ”Dita!!!! Kenapa?, kamu dari mana?” kak Zan berteriak juga. ”A...aku tadi lihat ada yang bergoyang– goyang dibalik pohon. Ternyata kuciiiing. Huhh takut!” ternyata wajah Gita sudah pucat gemetar. Tak lama mama dan papa datang, wajah dan tubuhnya penuh keringat. ”Dita ngapain kamu disini? Mama dan papa khawatir sama kamu” kata mama. Mama lega karena Dita sudah ketemu.
Selesai makan bakso di kantin sekolah, Farah melihat pengunguman lomba kostum kucing di mading sekolah. ”Wah.. ada lomba kostum kucing, Vona mau ku ajak lomba, ah. Oh iya Dit, kamu mau tolong aku nggak” kata Farah. ”Boleh, bantu apa?” tanya Dita. ”Tolong bantu aku buat bajunya Vona, untuk lomba kostum kucing. Kamu kan kreatif” kata Farah. Hahh kostum kucing? ke rumah farah? Harus ngukur badan Vona dong! Aduh gimana nih? kata Dita dalam hati. ”Ya sudah, kapan aku ke rumahmu?”jawab dita ragu– ragu. ”Besok aja Dit, lombanya kan dimulai minggu depan Dit!” kata Farah semangat. ”Jam berapa, Farah?” tanya Dita lagi. ”Pulang sekolah aja deh,dit!” Farah memberitahu. ”Oke,kalau gitu besok aku bareng kamu pulangnya! ”beres deh.”
Besoknya pulang sekolah Dita dan Farah pulang bareng. Sesampai di rumah, Farah menyuruh Dita mengambil Vona di ruang tamu. Saat Dita mengambil Vona, Vona bersin–bersin. Dita kaget dan melepaskan Vona. ”Auuuu.... sakit!” seru Dita ”Kenapa dit? Kok kamu bisa luka?” tanya Farah ” Kesandung mainanmu nih. Kucingmu juga luka” kata Dita. ”Meauu..” jerit Vona kesakitan ”Vona kamu kenapa? Vona kenapa Dit, kenapa?” tanya farah panik. ”Waktu aku angkat vona, dia bersin–bersin, terus aku kaget dan aku lepasin vona, terus aku lari dan kesandung mainanmu. Ternyata vona juga luka” cerita Dita. ”Oh. Ya udah, kalau gitu aku ambil obat dulu ya!” Farah segera mengobati Vona & memberi obat untuk Dita. Lalu Dita pulang diantar ortunya farah. Farah jadi agak kesal sama Dita karena vona tidak jadi mengikuti lomba.
Di rumah, Dita bercerita ke mama tentang kejadian di rumah Farah. Setelah mama mendengar cerita itu, mama menasihati Dita supaya tidak takut lagi sama kucing.
Seminggu sudah berlalu.....
Besok Dita pindah rumah. Dita sama sekali ngga ingat kalau hari ini Dita ultah. Mama, papa, dan fauzan merencanakan sesuatu agar saat ulang tahunnya dia tidak takut lagi dengan kucing.
”Assalamu’alaikum, Dita pulang. Lho kok gelap, mungkin mati lampu. ”Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum, kok sepi, pada kemana ya?!” Jrengg... tiba–tiba lampu langsung menyala dan terdengar suara nyanyian. ”Selamat ulang tahun, Dita!” kata mama,papa,dan fauzan. ”Ulang tahun? Ini tanggal... o,iya hari ini aku ulang tahun” kata Dita merasa bahagia. ”Oh iya ini kado dari kita Dit” kata kak Fauzan. ”wow, kayaknya bagus nih hadiahnya, makasih ya!” kata Dita senang. ”Sama– sama” jawab semua. ”Aahh... anak kucing!!!!!!” jerit Dita. ”Dita, kenapa sih kamu takut sama kucing?” tanya mama. ”Semuanya nggak ngerti perasaan Dita” kata Dita kesal. Dita mengurung diri di kamarnya. ”Dita nggak suka sama kucing ,tapi kenapa semua orang bujuk aku biar nggak takut kucing?” kata Dita bertanya sendiri. ”O,iya besok pindah rumah. Kenapa sih hari ulang tahunku selalu sial? Pokoknya aku nggak mau pindah rumah” kata Dita.
Esoknya....
”Dita kita siap–siap yuk.” ajak mama. ”Nggak ma, pokoknya aku nggak mau pindah rumah!” jawab Dita kesal. ”Ya udah kalau kamu nggak mau ikut pindah. Nanti di sini juga nggak ada yg bersihkan rumah ini dan jadi sarang tikus dan akhirnya juga banyak kucing.” bujuk mama.
Dita berpikir, dan akhirnya memutuskan untuk pindah rumah. Di saat pesta ultah Dita & acara selamatan rumah baru dita. Semua teman Dita diundang, termasuk Farah. Farah & teman Dita yang lain memberi kado. Setelah selesai acara, Dita membuka kado. Yang pertama Dita buka adalah kadonya Farah. Di dalam kado ada ucapan yang berisi selamat ultah Dita semoga panjang umur dan sehat selalu. Kado dari farah adalah cerita yang berjudul janganlah takut dengan kucing. Setelah Dita membacanya ia sadar bahwa takut dengan kucing tak ada gunanya. Mulai saat itu ia tak lagi taku kucing.
Dita baru saja pulang sekolah, “Assalamu’alaikum,ma!”. ”Eh, Dita, kebutulan nih tolong bawa tas koper mama dong,oh iya tas yg lainnya juga ya!” kata mama. ”Ih,mama Dita kan baru pulang, kok disuruh – suruh sih?lagian untuk apa tas sebanyak ini?” Dita ngomel. “Ya Allah Dit, kamu belum tau, kita kan mau pindah rumah!” kata mama. “Apa ma,mau pindah rumah?”jawab Dita kaget. ”Iya Dit,papa kan sudah dapat surat dinas ke luar negeri, emangnya nggak mau pindah rumah ya?”tanya mama lagi. ”Mau sih ma, tapi ……” Dita tampak tak bersemangat. ”Tapi apa? nggak mau ada kucing? memangnya kenapa sih kamu takut sama kucing?” lanjut mama. ”mm… gimana ya ma?” huhh,rupanya mama tahu,memang itu yg ku takutkan.
Waktu terus berjalan, sebentar lagi adzan maghrib tiba. Fauzan, kakak Dita mengetuk kamar Dita ingin mengajak sholat maghrib berjamaah. Tetapi Dita tidak membukakan pintu. Sudah lewat 5 menit Dita tidak membukakan pintu. Fauzan jadi heran karena Dita tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan berteriak ”Dita,Dita!!!buka pintu dong kita sholat bareng yuk!” Dita masih saja tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan mendobrak pintu, tetapi Dita tidak ada di kamarnya. Kak Zan sudah mencari ke semua ruangan,tetapi tidak ada. Mungkin dita kabur dari rumah,pikir fauzan. Selesai sholat Fauzan melanjutkan mencari Dita.
“Kenapa sih harus pindah? Kalo rumah kosong pasti jadi sarang kucing, tikus. Aduu..h” Dita bicara sendiri. “Tapi sebenarnya asyik juga pindah, pasti akan banyak teman baru. Aduuh gimana ini……” lama Dita berpikir, menyendiri di balik pohon mangga besar di sudut belakang rumah. “Kucing,kucing,kucing lagi.....” hingga waktu sholat maghrib lewat, dia masih belum beranjak dari tempat duduknya.
Di rumah ternyata papa dan mama juga khawatir. Sekeliling rumah sudah dicari, tapi Dita tetap tak ada. Mama menelpon ke rumah nenek, tante... dan teman–teman Dita. Wajah mama tampak khawatir sekali. “Masa ini hanya gara– gara takut kucing di rumah baru ? Aduuh kemana kamu dita ?” kata mama. ”Coba kita cari keliling komplek, siapa tahu dia ke taman,atau dimana!” ajak papa. Mereka pun keluar rumah dengan penuh khawatir.
”Aah ... tolong...!” teriakan itu membawa kak Zan melangkah ke belakang rumah. ”Dita!!!! Kenapa?, kamu dari mana?” kak Zan berteriak juga. ”A...aku tadi lihat ada yang bergoyang– goyang dibalik pohon. Ternyata kuciiiing. Huhh takut!” ternyata wajah Gita sudah pucat gemetar. Tak lama mama dan papa datang, wajah dan tubuhnya penuh keringat. ”Dita ngapain kamu disini? Mama dan papa khawatir sama kamu” kata mama. Mama lega karena Dita sudah ketemu.
Selesai makan bakso di kantin sekolah, Farah melihat pengunguman lomba kostum kucing di mading sekolah. ”Wah.. ada lomba kostum kucing, Vona mau ku ajak lomba, ah. Oh iya Dit, kamu mau tolong aku nggak” kata Farah. ”Boleh, bantu apa?” tanya Dita. ”Tolong bantu aku buat bajunya Vona, untuk lomba kostum kucing. Kamu kan kreatif” kata Farah. Hahh kostum kucing? ke rumah farah? Harus ngukur badan Vona dong! Aduh gimana nih? kata Dita dalam hati. ”Ya sudah, kapan aku ke rumahmu?”jawab dita ragu– ragu. ”Besok aja Dit, lombanya kan dimulai minggu depan Dit!” kata Farah semangat. ”Jam berapa, Farah?” tanya Dita lagi. ”Pulang sekolah aja deh,dit!” Farah memberitahu. ”Oke,kalau gitu besok aku bareng kamu pulangnya! ”beres deh.”
Besoknya pulang sekolah Dita dan Farah pulang bareng. Sesampai di rumah, Farah menyuruh Dita mengambil Vona di ruang tamu. Saat Dita mengambil Vona, Vona bersin–bersin. Dita kaget dan melepaskan Vona. ”Auuuu.... sakit!” seru Dita ”Kenapa dit? Kok kamu bisa luka?” tanya Farah ” Kesandung mainanmu nih. Kucingmu juga luka” kata Dita. ”Meauu..” jerit Vona kesakitan ”Vona kamu kenapa? Vona kenapa Dit, kenapa?” tanya farah panik. ”Waktu aku angkat vona, dia bersin–bersin, terus aku kaget dan aku lepasin vona, terus aku lari dan kesandung mainanmu. Ternyata vona juga luka” cerita Dita. ”Oh. Ya udah, kalau gitu aku ambil obat dulu ya!” Farah segera mengobati Vona & memberi obat untuk Dita. Lalu Dita pulang diantar ortunya farah. Farah jadi agak kesal sama Dita karena vona tidak jadi mengikuti lomba.
Di rumah, Dita bercerita ke mama tentang kejadian di rumah Farah. Setelah mama mendengar cerita itu, mama menasihati Dita supaya tidak takut lagi sama kucing.
Seminggu sudah berlalu.....
Besok Dita pindah rumah. Dita sama sekali ngga ingat kalau hari ini Dita ultah. Mama, papa, dan fauzan merencanakan sesuatu agar saat ulang tahunnya dia tidak takut lagi dengan kucing.
”Assalamu’alaikum, Dita pulang. Lho kok gelap, mungkin mati lampu. ”Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum, kok sepi, pada kemana ya?!” Jrengg... tiba–tiba lampu langsung menyala dan terdengar suara nyanyian. ”Selamat ulang tahun, Dita!” kata mama,papa,dan fauzan. ”Ulang tahun? Ini tanggal... o,iya hari ini aku ulang tahun” kata Dita merasa bahagia. ”Oh iya ini kado dari kita Dit” kata kak Fauzan. ”wow, kayaknya bagus nih hadiahnya, makasih ya!” kata Dita senang. ”Sama– sama” jawab semua. ”Aahh... anak kucing!!!!!!” jerit Dita. ”Dita, kenapa sih kamu takut sama kucing?” tanya mama. ”Semuanya nggak ngerti perasaan Dita” kata Dita kesal. Dita mengurung diri di kamarnya. ”Dita nggak suka sama kucing ,tapi kenapa semua orang bujuk aku biar nggak takut kucing?” kata Dita bertanya sendiri. ”O,iya besok pindah rumah. Kenapa sih hari ulang tahunku selalu sial? Pokoknya aku nggak mau pindah rumah” kata Dita.
Esoknya....
”Dita kita siap–siap yuk.” ajak mama. ”Nggak ma, pokoknya aku nggak mau pindah rumah!” jawab Dita kesal. ”Ya udah kalau kamu nggak mau ikut pindah. Nanti di sini juga nggak ada yg bersihkan rumah ini dan jadi sarang tikus dan akhirnya juga banyak kucing.” bujuk mama.
Dita berpikir, dan akhirnya memutuskan untuk pindah rumah. Di saat pesta ultah Dita & acara selamatan rumah baru dita. Semua teman Dita diundang, termasuk Farah. Farah & teman Dita yang lain memberi kado. Setelah selesai acara, Dita membuka kado. Yang pertama Dita buka adalah kadonya Farah. Di dalam kado ada ucapan yang berisi selamat ultah Dita semoga panjang umur dan sehat selalu. Kado dari farah adalah cerita yang berjudul janganlah takut dengan kucing. Setelah Dita membacanya ia sadar bahwa takut dengan kucing tak ada gunanya. Mulai saat itu ia tak lagi taku kucing.
INSYAFNYA GITA
By Tya
Gita adalah anak yang durhaka pada orang tuanya. Ia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa yang indah. Umur Gita sekarang 16 tahun. Ia kesal dengan keadaan orang tuanya yang miskin. Bila tak punya uang, ia suka mencuri. ”Ibuu, Ibuu...buatin aku mie goreng!” kata Gita sambil marah-marah. ”Tunggu Gita, ibu lagi cuci piring” kata ibu dari dapur. Lima menit sudah berlalu...”Ibuu.. bikin mie aja kok lama banget sih..!Teriak Gita kesal. ”Iya Gita, ibukan lagi cuci piring”. ”Nggak ada alasan. Pokoknya harus sekarang!” kata Gita sambil mendorong ibunya ke arah kompor. Belum lagi ibunya selesai memasak mie...”Ibu..ibu.. lama banget siih. Sudah aku bikin sendiri aja. Ayo sekarang ibu masuk ke kamar mandi aja” kata Gita sambil menarik lengan ibunya, mendorongnya masuk ke kamar mandi. ”Astaghfirullah... Gita, ini ibumu nak..” kata ibi sambil menangis. ”Apa ibu? Kalau jadi ibunya Gita jangan miskin. Jangan malas. Kalau miskin kayak gini namanya pembantu. Udah deh, sekarang masuk ke kamar mandi” Ya Allah jahatnya Gita. ”Ya Allah ampuni anakku Gita, sadarkan dia ya Allah” biarpun ibu Gita disakiti setiap hari, ia tak pernah berhenti berharap pada Allah.
Besok paginyapun sikapnya masih sama. ”Nih uang buat belanja” kata Gita pada ibu sambil melemparkan uang yang banyak. ”Gita, ini uang dari mana? Tanya ibunya. ”Pembantu mau tahu aja, sudah yang penting masakkan aku makanan yang enak-enak” Rupanya Gita mencuri lagi. ”Rebuskan aku air panas buat mandi” kata Gita. ”Tunggu ya nak” Ibu menyelesaikan jahitannya. ”Nggak pake nanti-nanti, sekaraang!!! Jawab Gita sambil teriak. Setiap hari selalu seperti itu. Tak pernah berubah.
Siang itu datang tetangganya dengan tergesa-gesa ”Gita, ibumu ada di rumah sakit. Tadi pagi ia tertabrak mobil waktu mau ke pasar. Cepat kau datang ke sana” kata tetangga itu. ”Ah biar aja.. ..,aku nggak sempat” kata Gita sambil melanjutkan tidur siangnya. Ibu Gita ternyata meninggal. Tapi Gita masih tak perduli juga. Yang mengurus jenazahnya adalah tetangga-tetangga yang selama ini prihatin melihat ibu Gita.
Sejak kepergian ibunya, semakin terasa betapa pentingnya ibu bagi Gita. Tak ada yang membuatnya makan. Tak ada yang mijit pada saat lelah. Tidak ada yang mengelusnya pada saat sedihn Tidak ada lagi yang memperhatikannya. Ibuu.... Gita menyesal....
Gita adalah anak yang durhaka pada orang tuanya. Ia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa yang indah. Umur Gita sekarang 16 tahun. Ia kesal dengan keadaan orang tuanya yang miskin. Bila tak punya uang, ia suka mencuri. ”Ibuu, Ibuu...buatin aku mie goreng!” kata Gita sambil marah-marah. ”Tunggu Gita, ibu lagi cuci piring” kata ibu dari dapur. Lima menit sudah berlalu...”Ibuu.. bikin mie aja kok lama banget sih..!Teriak Gita kesal. ”Iya Gita, ibukan lagi cuci piring”. ”Nggak ada alasan. Pokoknya harus sekarang!” kata Gita sambil mendorong ibunya ke arah kompor. Belum lagi ibunya selesai memasak mie...”Ibu..ibu.. lama banget siih. Sudah aku bikin sendiri aja. Ayo sekarang ibu masuk ke kamar mandi aja” kata Gita sambil menarik lengan ibunya, mendorongnya masuk ke kamar mandi. ”Astaghfirullah... Gita, ini ibumu nak..” kata ibi sambil menangis. ”Apa ibu? Kalau jadi ibunya Gita jangan miskin. Jangan malas. Kalau miskin kayak gini namanya pembantu. Udah deh, sekarang masuk ke kamar mandi” Ya Allah jahatnya Gita. ”Ya Allah ampuni anakku Gita, sadarkan dia ya Allah” biarpun ibu Gita disakiti setiap hari, ia tak pernah berhenti berharap pada Allah.
Besok paginyapun sikapnya masih sama. ”Nih uang buat belanja” kata Gita pada ibu sambil melemparkan uang yang banyak. ”Gita, ini uang dari mana? Tanya ibunya. ”Pembantu mau tahu aja, sudah yang penting masakkan aku makanan yang enak-enak” Rupanya Gita mencuri lagi. ”Rebuskan aku air panas buat mandi” kata Gita. ”Tunggu ya nak” Ibu menyelesaikan jahitannya. ”Nggak pake nanti-nanti, sekaraang!!! Jawab Gita sambil teriak. Setiap hari selalu seperti itu. Tak pernah berubah.
Siang itu datang tetangganya dengan tergesa-gesa ”Gita, ibumu ada di rumah sakit. Tadi pagi ia tertabrak mobil waktu mau ke pasar. Cepat kau datang ke sana” kata tetangga itu. ”Ah biar aja.. ..,aku nggak sempat” kata Gita sambil melanjutkan tidur siangnya. Ibu Gita ternyata meninggal. Tapi Gita masih tak perduli juga. Yang mengurus jenazahnya adalah tetangga-tetangga yang selama ini prihatin melihat ibu Gita.
Sejak kepergian ibunya, semakin terasa betapa pentingnya ibu bagi Gita. Tak ada yang membuatnya makan. Tak ada yang mijit pada saat lelah. Tidak ada yang mengelusnya pada saat sedihn Tidak ada lagi yang memperhatikannya. Ibuu.... Gita menyesal....
Subscribe to:
Posts (Atom)