Monday, August 6, 2007

Dinda dan adik baru

By Titha

Aku punya seorang teman. Namanya Dinda. Kata Dinda, ibunya sudah tak bisa hamil lagi karena KB. Dulu aku belum tahu apa itu KB. Kini aku sudah tahu karena cerita ini.
Pada suatu hari ibu Dinda mengalami sakit perut. Pada saat itu memang lagi musim sakit diare. Lalu, mama Dinda muntah-muntah. Ayah Dinda kira istrinya terkena diare. Saat itu ayah Dinda membawa istrinya ke rumah sakit permata hati. Saat diperiksa dokter Rina ternyata ibu Dinda hamil. Mereka berdua pun memberi tahu Dinda bahwa ia akan mendapat adik baru. Namun, bulan ini baru 1 bulan.
8 bulan kemudian….Ibu Dinda pun sudah hamil 9 bulan. Mereka lupa menanyakan kapan akan melahirkan pada dokter Rina.
Dinda dan orang tuanya pergi ke pro baby membeli peralatan bayi yang belum tersiapkan. Setelah selesai memilih baju mereka langsung ke tukang jahit pak Doyok untuk menjahitkan baju buat ibu. Kebetulan tempat menjahitnya dekat dengan dukun beranak(kira-kira 100 m). Pak doyok langsung mengukur perut ibu dinda yang sangat jumbo. “Mengapa perut istri saya harus diukur?” tanya ayah Dinda. Saat diukur ibu Dinda merasa bahwa anaknya akan keluar. “Aduuh…aduuuh rasanya saya ingin melahirkan tolong, yah!” kata ibu Dinda sambil memenggang perutnya. “Waduh, bagaimana ini, Dokter Rina kan tempat prakteknya jauh?” tanya ayah Dinda dengan khawatir. “Tenang pak didekat sini ada dukun beranak kok, sebentar saya panggilkan. Bapak bawa istrinya dulu kekamar anak saya.” jawab pak Doyok.
Dinda membantu ayahnya membawa ibunya ke kamar anak pak Doyok. Kembali ke Pak doyok. “Cepet dong, mbah!” kata pak Doyok sambil menarik tangan mbah dukun beranak. ”mbo’ sabar, saya kan juga sedang hamil 9 bulan. ”Akhirnya dukun beranak dan pak Doyok sampai di rumah & langsung pergi ke atas menuju kamar anaknya pak doyok.
Lalu, sang dukun beranak menyuruh ibu Dinda menarik nafas. Ibu dinda pun melakukan perintah dukun itu. Saat ibu Dinda menarik nafas, dukun beranak itu ikut menarik nafas. Ehh…. tahunya si dukun beranak mau melahirkan anak juga. Lalu, oleh pak Doyok dukun beranak tersebut diantar ke ruang bawah. Lalu, sang dukun beranak berabahan di tempat tidur yang telah tersedia.
Dukun beranak menyuruh pak doyok untuk mengambil air panas. “Waduuh anakku sudah mau keluar. Tapi kok pak Doyok belum datang juga, ya?” kata sang dukun beranak. Dengan hati-hati sang dukun beranak menuju ke atas ke kamar anaknya pak Doyok. “Anakmu sudah lahir?” tanya dukun beranak itu. “belum mbah. Mbah sudah?” Jawab ibu Dinda sambil balik bertanya. “Kalau saya juga belum. Pak bisa tolong keluar dulu!” perintah dukun beranak sambil menyuruh ayah Dinda keluar begitu juga dengan Dinda.
“Tarik nafas ! buang perlahan!” perintah sang dukun beranak. Ibu Dinda pun mengikutinya. Beberapa waktu kemudian anak mereka berdua lahir. Anak sang dukun adalah laki-laki. Sedang ibu Dinda melahirkan dua orang anak yang bernama Lala dan Lili. Dinda mendapat adik kembar. Perasaannya sangat senang. Sang dukun beranak dan ibu Dinda pun pulang kerumah masing-masing.
Sampai dirumah Dinda menggendong adiknya Lala. Saat ibu melihat ibu memarahi Dinda, “Kamu tuh jangan gendong adik dulu nanti jatuh gimana?” Kata ibu dengan marah. Dinda pun pergi ke kamar untuk menuliskan kejadian tadi di buku dirinya.
Malam harinya saat makan malam tiba ayah, ibu, baby sister memberi makan Lala dan Lili. Dinda kecewa karena ia dicuekin oleh orang lain. Dinda pun langsung kekamar dan seperti biasanya dinda menulis kejadin yang baru ia alami di buku diarinya.
Hari minggu ayah dan ibu Dinda membelikan anak kembarnya baju, celana, topi, rok, dan lain-lain. Lagi-lagi dinda kecewa karena ia iri pada kedua adiknya karena ia hanya dibelikan sepasang kaos kaki dan tidak sama dengan adiknya.
Beberapa tahun kemudin saat adiknya Dinda sudah berumur lima tahun dan sudah bersekolah. Dinda sudah duduk di bangku kelas 4. Hari ini Dinda pulang lebih cepat karena ada rapat guru. Saat pulang Dinda ke tk adiknya dulu. Sesampainya di TK adiknya Dinda mendorong Lala dari atas pelosotan dan menjatuhkan Lili ke dalam paret. Dinda melakukannya karena ia iri pada adiknya. Sebelim punya adik ia memang selalu disayang oleh orang tuanya tapi sekarang tidak lagi.
Sesampainya di rumah ternyata adik Dinda sudah pulang. Adik Dinda nangis terus-terusan karena sakit. Orang tua Dinda membawa mereka ke rumah sakit. Dinda tak ikut. Saat pulang Dinda terkejut melihat kepala dan kaki adiknya dijahit dan diperban. Dinda pun menyesal yang dilakukannya sepulang sekolah tadi dan tidak mengulangi perbuatannya lagi.

No comments: