By Thita
Pada suatu hari di desa suka maju, hiduplah anak yang bernama Alisa. Ia sangat pintar dan juga cantik. Namun, ia hidup sebatang kara. Pada suatu hari Alisa pergi dan melihat ada suatu gubuk yang cukup bagus, kebetulan ia sangat capek sehingga ia masuk ke dalam gubug itu dan tertidur di dalam gubuk tersebut. Ia pun tidur dengan nyenyak, hingga malam hari ia tertidur.
Pada malam harinya datang seorang perempuan yang hidupnya juga susah. “eh… eh… bangun, kamu siapa kok ada digubuk ini?” kata perempuan tadi. “Hoaaam…” Alisa menguap karena masih mengantuk. “Siapa namamu?” tanya perempuan tadi sekali lagi. “Namaku Alisa, dan kamu siapa?” jawab Alisa dan bertanya balik. “Namaku Adinda. Hari sudah malam kamu menginap di gubukku ini saja!” Ajak Adinda. Adinda agak lebih cantik dari pada Alisa dan tapi agak bodoh.
Keesokkan paginya setelah selesai mandi di sungai, Alisa berkata “Adinda makasih, ya sudah mengizinkan aku untuk tinggal disini” Kata Alisa. “Tidak apa-apa kok. Justru aku senang kamu ada disini dan menjadi temanku. Tapi… maaf Ya Alisa, karena aku tidak dapat memberimu makan setiap harinya. Namun, kali ini aku akan memberi kamu makan, kebetulan tadi malam hasil aku mengamen aku belikan nasi campur” Jawab Adinda panjang lebar. “Terima kasih Adinda, ini saja aku sudah terima kasih sekali padamu karena kamu telah memberiku sarapan ini” jawab Alisa.
Sorenya datang dua orang yang ingin memiliki anak, namun hingga kinimereka belum mendapatkannya. Mereka adalah orang terkaya di desa Suka maju.
“Haloooo… ada orang disini?” Tanya kedua orang itu. “Yaaa…. Tunggu sebentar” Jawab Adinda. Adinda pun mempersilahkan dua orang itu untuk masuk. Lalu dua orang itu menceritakan masalah mereka dan menanyakan apakah ada anak disini yang dapat mereka jadikan sebagai anak angkat mereka. Mereka sudah mencari anak di panti asuhan namun, tidak ada anak yang mereka anggap cocok menjadi anak mereka berdua.
Lalu, Alisa datang membawakan dua cangkir teh untuk dua orang tersebut. Kedua orang itu bertanya kepada Adinda “Apakah kamu bersedia menjadi anak angkat kami?” Tanya dua orang itu. Lalu Adinda permisi untuk kebelakang dan menarik tangan Alisa. “Alisa kamu mau ya, jadi anak mereka” Kata Adinda. “Memangnya kenapa?” Tanya Alisa. “Mereka berdua dapat membiayai kebutuhan kamu sedangkan aku tidak bisa” Jawab Alisa. “Ya, Terserah kamu deh.” Jawab Alisa pasrah. Lalu mereka berdua berpelukan sebagai tanda perpisahan.
Beberapa menit kemudian mereka keluar “Namanya Alisa, ia mau menjadi anak angkat kalian” Jawab Adinda. “Anak ku…..” Kata mereka serempak dengan perasaan bahagia. Mereka berdua membawa Alisa pergi. Di mobil mereka selalu berbincang-bincang.
Sesampainya di rumah baru Alisa, mereka menunjukkan semua ruangan kepada Alisa. Alisa pun sangat senang karena memiliki rumah yang besar.
Tak berapa lama papa dan mama angkatnya berpamitan karena ingin jalan ke mall yang memang cukup jauh dari desa Suka maju. Mereka berpesan agar Alisa tidak nakal dan jika ingin sesuatu minta tolong sama mbok irem pembantu dirumah baru Alisa. Hari itu Alisa ingin beristirahat di kamar barunya. Setelah orang tua angkat Alisa pulang dari mall, Alisa langsung diberi baju, topi, celana, sepatu, kaos kaki, tas Dll.
Pada hari yang lain ayah angkat Alisa mendapat uang yang banyak sekali. Papa Alisa mengajak pindah ke kota Jakarta untuk selamanya.
Mereka pergi ke Jakarta naik pesawat Garuda Indonesia. Saat pramugarinya dating, mama Alisa pun bertanya pada Alisa, “Alisa sayang, mau minum teh atau susu?” “Teh saja tante.” Jawab Alisa. “Alisa jangan panggil tante atau om lagi ya, tapi panggil papa atau mama.”
Beberapa jam kemudian….mereka pun sampai di Jakarta. Di Jakarta mereka tinggal di Jl. Pamulang permai 1 no.52 dekat dengan sebuah sekolah At-Taqwa. Alisa sangat senang, baru saja ia tinggal di rumah barunya ia pun sudah pindah ke Jakarta. Ternyata ayah Alisa sudah memesan rumah sebelum mereka pergi ke Jakarta. Rumah baru Alisa pun tak kalah besar. Kamarnya Alisa pun sangat besar.
“Alisa sayang, mama akan memberi-tahukanmu tentang ruangan-ruangan yang ada di disini. Coba kita buat tabelnya” kata mama Alisa. Mama Alisa pun mulai membuat tabelnya.
Antara lain tabelnya sebagai berikut:
Lantai Ruangan
1 Kamar mandi, ruang makan,
Rak sepatu, Garasi, Dapur
2 Kamar mandi,
Kamar pembantu,
Ruang bermain
3 Ruang belajar,
Ruang komputer,
ruang kerja
4 Ruang olah raga,
Ruang tanaman,
Ruang hewan
5 Kamar untuk tamu / Keluarga
yang datang (10)
6 Kamar Alisa, Kamar ibu Alisa,
Kamar Ayah Alisa
Mama Alisa pun menyerahkan tabel ruangan itu pada Alisa.
Keesokkan harinya….. Alisa di ajak jalan-jalan oleh orang tuanya ke taman karawaci. Di taman karawaci ia pergi ke toko buku. “Alisa sayang, jika ingin membeli buku ambil saja” Kata ayah Alisa. “Sebenarnya aku ingin membeli buku diary ini. Namun, aku tak mau merepotkan orang tua baruku. Sebaiknya aku tak usah membeli buku supaya aku tidak merepotkan” Kata Alisa sambil melihat-lihat buku.
Ternyata di balik rak buku diary yang dicari Alisa ada orang tua baru Alisa. Mereka berdua sangat terharu mendengar kata-kata yang baru saja diucapkan Alisa barusan. Setengah jam pun berlalu… mama dan papa Alisa sudah puas mencari buku. Alisa pun dipanggil oleh orang tuanya. “Mana bukumu Alisa cantik” tanya papa Alisa setengah bercanda. “ Tak ada, pa” jawab Alisa ramah. “ lho kok tak ada papa carikan,ya!” Kata papa Alisa.
Saat itu papa Alisa mencari buku diary yang Alisa suka tadi. Akhirnya papa Alisa menunjukkan sebuah buku diary yang berbentuk kupu-kupu. “ Apakah kau mau yang ini?” tanya papa Alisa. “ Boleh, pa?” jawab Alisa dengan perasaan malu. “Tentu boleh, mengapa tak boleh?” Jawab papa Alisa sambil balik bertanya. Namun, Alisa tak bisa menjawab pertanyaan susah itu.
Setelah semua selesai memilih buku, mereka langsung membayarnya. Sesam-painya di rumah ia langsung lari ke kamar dan melihat buku terbagus dan termahal dari buku-buku yang dulu pernah dibelikan Almarhum dan Almarhumah orang tuanya dulu. Perasaan Alisa saaaaangat senang.
Alisa menjadi bertambah patuh pada orang tuanya. Oh, iya Alisa juga orang islam, loh. Dan juga sholatnya nggak pernah bolong-bolong. Bagaimana nggak kagum kita-kita saja masih banyak yang sholatnya bolong-bolong.
Alisa mulai menulis diary baru yang isinya seperti ini:
Hai, teman baruku (buku diary barunya), Aku mau curhat , nich. Gini tadi aku dipilihkan kamu sobat. Kamu cantik deh. Tapi….sayangnya orang tuaku dulu sudah tak ada dan tidak dapat melihat sobat baruku ini yang cantik dan indah ini. Moga-moga Allah menerima orang tuaku disisinya. Amiin. Sudah dulu ya, sobat aku mau mandi dulu sudah jam 04.00, nich.
Pada suatu hari Alisa sedang bermain dengan buku diarynya. Ternyata Alisa lupa telah meninggalkan buku diarynya di taman dekat rumah, gara-gara pengen segera buang air kecil. Alisa langsung berlari ke taman dan mencari buku diarynya. Namun, tak ketemu. Ternyata buku Alisa diambil oleh tiga anak nakal bernama Austin, owen, dan kara.
“Wek 3 kali, ini ya bukumu rebut nich kalau bisa!” Kata Austin. Namun, Alisa tak bisa merebutnya. “ha..ha..ha..ha…” Kata Owen dan kara serempak. “Sudah jam 05.00 sore pulang, yuk dan baca buku diary ini.” Kata Owen. Mereka pun pulang. Tanpa berbasa-basi Alisa pun mengikuti mereka.
Sampai di tujuan tiga anak nakal itu ingin membaca buku diary Alisa. Saat ingin membaca buku diary Alisa, Austin, Owen, dan kara dipanggil ibu mereka masing-masing untuk mandi. Lagi-lagi buku diarynya ketinggalan, ini memang kesempatan emas untuk Alisa. Alisa pun langsung mengambil kembali buku diarynya dan segera pulang. Sejak saat itu Alisa akan terus menjaga barang-barangnya dan tidak menaruhnya di sembarang tempat. Diary kan benda paling pribadi.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment