By Tya
Dita baru saja pulang sekolah, “Assalamu’alaikum,ma!”. ”Eh, Dita, kebutulan nih tolong bawa tas koper mama dong,oh iya tas yg lainnya juga ya!” kata mama. ”Ih,mama Dita kan baru pulang, kok disuruh – suruh sih?lagian untuk apa tas sebanyak ini?” Dita ngomel. “Ya Allah Dit, kamu belum tau, kita kan mau pindah rumah!” kata mama. “Apa ma,mau pindah rumah?”jawab Dita kaget. ”Iya Dit,papa kan sudah dapat surat dinas ke luar negeri, emangnya nggak mau pindah rumah ya?”tanya mama lagi. ”Mau sih ma, tapi ……” Dita tampak tak bersemangat. ”Tapi apa? nggak mau ada kucing? memangnya kenapa sih kamu takut sama kucing?” lanjut mama. ”mm… gimana ya ma?” huhh,rupanya mama tahu,memang itu yg ku takutkan.
Waktu terus berjalan, sebentar lagi adzan maghrib tiba. Fauzan, kakak Dita mengetuk kamar Dita ingin mengajak sholat maghrib berjamaah. Tetapi Dita tidak membukakan pintu. Sudah lewat 5 menit Dita tidak membukakan pintu. Fauzan jadi heran karena Dita tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan berteriak ”Dita,Dita!!!buka pintu dong kita sholat bareng yuk!” Dita masih saja tidak membukakan pintu. Lalu kak Zan mendobrak pintu, tetapi Dita tidak ada di kamarnya. Kak Zan sudah mencari ke semua ruangan,tetapi tidak ada. Mungkin dita kabur dari rumah,pikir fauzan. Selesai sholat Fauzan melanjutkan mencari Dita.
“Kenapa sih harus pindah? Kalo rumah kosong pasti jadi sarang kucing, tikus. Aduu..h” Dita bicara sendiri. “Tapi sebenarnya asyik juga pindah, pasti akan banyak teman baru. Aduuh gimana ini……” lama Dita berpikir, menyendiri di balik pohon mangga besar di sudut belakang rumah. “Kucing,kucing,kucing lagi.....” hingga waktu sholat maghrib lewat, dia masih belum beranjak dari tempat duduknya.
Di rumah ternyata papa dan mama juga khawatir. Sekeliling rumah sudah dicari, tapi Dita tetap tak ada. Mama menelpon ke rumah nenek, tante... dan teman–teman Dita. Wajah mama tampak khawatir sekali. “Masa ini hanya gara– gara takut kucing di rumah baru ? Aduuh kemana kamu dita ?” kata mama. ”Coba kita cari keliling komplek, siapa tahu dia ke taman,atau dimana!” ajak papa. Mereka pun keluar rumah dengan penuh khawatir.
”Aah ... tolong...!” teriakan itu membawa kak Zan melangkah ke belakang rumah. ”Dita!!!! Kenapa?, kamu dari mana?” kak Zan berteriak juga. ”A...aku tadi lihat ada yang bergoyang– goyang dibalik pohon. Ternyata kuciiiing. Huhh takut!” ternyata wajah Gita sudah pucat gemetar. Tak lama mama dan papa datang, wajah dan tubuhnya penuh keringat. ”Dita ngapain kamu disini? Mama dan papa khawatir sama kamu” kata mama. Mama lega karena Dita sudah ketemu.
Selesai makan bakso di kantin sekolah, Farah melihat pengunguman lomba kostum kucing di mading sekolah. ”Wah.. ada lomba kostum kucing, Vona mau ku ajak lomba, ah. Oh iya Dit, kamu mau tolong aku nggak” kata Farah. ”Boleh, bantu apa?” tanya Dita. ”Tolong bantu aku buat bajunya Vona, untuk lomba kostum kucing. Kamu kan kreatif” kata Farah. Hahh kostum kucing? ke rumah farah? Harus ngukur badan Vona dong! Aduh gimana nih? kata Dita dalam hati. ”Ya sudah, kapan aku ke rumahmu?”jawab dita ragu– ragu. ”Besok aja Dit, lombanya kan dimulai minggu depan Dit!” kata Farah semangat. ”Jam berapa, Farah?” tanya Dita lagi. ”Pulang sekolah aja deh,dit!” Farah memberitahu. ”Oke,kalau gitu besok aku bareng kamu pulangnya! ”beres deh.”
Besoknya pulang sekolah Dita dan Farah pulang bareng. Sesampai di rumah, Farah menyuruh Dita mengambil Vona di ruang tamu. Saat Dita mengambil Vona, Vona bersin–bersin. Dita kaget dan melepaskan Vona. ”Auuuu.... sakit!” seru Dita ”Kenapa dit? Kok kamu bisa luka?” tanya Farah ” Kesandung mainanmu nih. Kucingmu juga luka” kata Dita. ”Meauu..” jerit Vona kesakitan ”Vona kamu kenapa? Vona kenapa Dit, kenapa?” tanya farah panik. ”Waktu aku angkat vona, dia bersin–bersin, terus aku kaget dan aku lepasin vona, terus aku lari dan kesandung mainanmu. Ternyata vona juga luka” cerita Dita. ”Oh. Ya udah, kalau gitu aku ambil obat dulu ya!” Farah segera mengobati Vona & memberi obat untuk Dita. Lalu Dita pulang diantar ortunya farah. Farah jadi agak kesal sama Dita karena vona tidak jadi mengikuti lomba.
Di rumah, Dita bercerita ke mama tentang kejadian di rumah Farah. Setelah mama mendengar cerita itu, mama menasihati Dita supaya tidak takut lagi sama kucing.
Seminggu sudah berlalu.....
Besok Dita pindah rumah. Dita sama sekali ngga ingat kalau hari ini Dita ultah. Mama, papa, dan fauzan merencanakan sesuatu agar saat ulang tahunnya dia tidak takut lagi dengan kucing.
”Assalamu’alaikum, Dita pulang. Lho kok gelap, mungkin mati lampu. ”Assalamu’alaikum, assalamu’alaikum, kok sepi, pada kemana ya?!” Jrengg... tiba–tiba lampu langsung menyala dan terdengar suara nyanyian. ”Selamat ulang tahun, Dita!” kata mama,papa,dan fauzan. ”Ulang tahun? Ini tanggal... o,iya hari ini aku ulang tahun” kata Dita merasa bahagia. ”Oh iya ini kado dari kita Dit” kata kak Fauzan. ”wow, kayaknya bagus nih hadiahnya, makasih ya!” kata Dita senang. ”Sama– sama” jawab semua. ”Aahh... anak kucing!!!!!!” jerit Dita. ”Dita, kenapa sih kamu takut sama kucing?” tanya mama. ”Semuanya nggak ngerti perasaan Dita” kata Dita kesal. Dita mengurung diri di kamarnya. ”Dita nggak suka sama kucing ,tapi kenapa semua orang bujuk aku biar nggak takut kucing?” kata Dita bertanya sendiri. ”O,iya besok pindah rumah. Kenapa sih hari ulang tahunku selalu sial? Pokoknya aku nggak mau pindah rumah” kata Dita.
Esoknya....
”Dita kita siap–siap yuk.” ajak mama. ”Nggak ma, pokoknya aku nggak mau pindah rumah!” jawab Dita kesal. ”Ya udah kalau kamu nggak mau ikut pindah. Nanti di sini juga nggak ada yg bersihkan rumah ini dan jadi sarang tikus dan akhirnya juga banyak kucing.” bujuk mama.
Dita berpikir, dan akhirnya memutuskan untuk pindah rumah. Di saat pesta ultah Dita & acara selamatan rumah baru dita. Semua teman Dita diundang, termasuk Farah. Farah & teman Dita yang lain memberi kado. Setelah selesai acara, Dita membuka kado. Yang pertama Dita buka adalah kadonya Farah. Di dalam kado ada ucapan yang berisi selamat ultah Dita semoga panjang umur dan sehat selalu. Kado dari farah adalah cerita yang berjudul janganlah takut dengan kucing. Setelah Dita membacanya ia sadar bahwa takut dengan kucing tak ada gunanya. Mulai saat itu ia tak lagi taku kucing.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment